Sidang Korupsi Chromebook, Nadiem Minta Hakim Panggil Petinggi Google Jadi Saksi

Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim (Antara Foto)

Seantero.id, JAKARTA – Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook terus bergulir di meja hijau. Dalam persidangan terbaru, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, secara terbuka meminta majelis hakim untuk menghadirkan pihak Google. Langkah ini diambil guna memperjelas carut-marut informasi mengenai kerja sama teknis dan skema biaya yang selama ini menjadi perdebatan dalam proses hukum tersebut.

Kehadiran para petinggi Google dianggap sangat krusial oleh Nadiem untuk memberikan titik terang. Ia ingin memastikan bahwa seluruh prosedur yang dilakukan kementeriannya sudah sesuai dengan standar global yang diterapkan oleh perusahaan teknologi tersebut. Nadiem menekankan bahwa keterbukaan informasi dari pihak penyedia layanan utama akan membantu meluruskan berbagai prasangka yang muncul selama proses penyidikan.

“Mohon bantuan majelis untuk bisa juga mengundang atasan-atasan Google untuk bisa meluruskan isu ini agar ini semua terbuka,” ujar Nadiem dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Salah satu poin yang sangat disoroti dalam persidangan ini adalah mengenai munculnya angka persentase sebesar 30 persen yang diduga terkait dengan aliran dana atau biaya manajemen. Nadiem tampak cukup vokal mempertanyakan dasar dari perhitungan angka tersebut agar tidak terjadi salah tafsir di antara para penegak hukum.

“Apa itu angka 30 persen? Enggak apa-apa kita buka-buka saja, 30 persen dari apa? Biar jelas para majelis mengerti 30 persen dari apa. 100 persennya itu angka apa dari 30 persen?” tanya Nadiem dengan nada tegas saat menanggapi keterangan saksi.

Merespons pertanyaan tersebut, seorang saksi bernama Fiona memberikan penjelasan mengenai asal-usul angka yang dimaksud. “Sepemahaman saya yang dari bukti yang ditunjukkan dari Chromebook Device Management. Jadi bukan dari pengadaan laptop, pengadaan Chromebook, tapi dari angka Chromebook Device Management yang 30 dollar (Amerika Serikat) per laptop kalau tidak salah,” jawab Fiona di hadapan hakim.

Persidangan juga menyentuh keterlibatan perusahaan mitra seperti GITS dan REFO. Saksi Ibrahim menyebutkan bahwa nama-nama tersebut memang muncul dalam dokumen pemeriksaan. “Ya, saya pernah mendengar GITS sama REFO kalau enggak salah di-mention di BAP,” jawab Ibrahim. Ia juga menambahkan sudut pandang teknisnya, “Tapi, dari segi teknis yang saya tahu, yang saya bayangkan dari dulu itu adalah technical support.”

Fiona kemudian mengonfirmasi bahwa penunjukan vendor-vendor tersebut dilakukan langsung oleh pihak Google, bukan dari internal kementerian. “Sepengetahuan saya, seingat saya sekitar 2023, (REFO dan GITS) itu dipilih oleh Google,” kata Fiona menjelaskan posisi kedua perusahaan tersebut dalam ekosistem pendidikan Google.

Di akhir kesaksiannya, Nadiem kembali menegaskan harapannya agar pihak berwenang segera memanggil perwakilan resmi dari raksasa teknologi itu. “Nanti, kita akan harapannya mengundang saksi dari Google untuk meluruskan ini. Dan, ini program yang dilakukan dengan education system di seluruh negara,” kata Nadiem lagi menutup pernyataannya. (Sen)

Share it:

Baca Juga