Seantero.id, PENAJAM – Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Trasodiharto, mulai mendorong inovasi pengolahan ikan melalui sistem marinasi sebagai upaya membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai jual hasil perikanan.
Ia menegaskan, selama ini kekhawatiran terbesar para pembudidaya bukan pada produksi, melainkan pada pasar. Padahal, menurutnya, peluang pasar justru sangat terbuka lebar.
“Kadang kita ini takut hanya karena bayangan pasar. Padahal sebenarnya tidak sulit. Kita bisa kerja sama dengan penampung di IKN, warung-warung, sampai pedagang pinggir jalan,” ujarnya, Selasa (31/3).
Untuk menjawab keraguan tersebut, Andi mendorong konsep ikan siap masak berbumbu atau marinasi.
Caranya mudah, ikan dibersihkan, diberi bumbu, kemudian dikemas vakum sehingga praktis dan siap digoreng oleh konsumen.
“Ikan disiang, dikasih bumbu, dimarinasi, lalu divakum. Tinggal gunting plastiknya, langsung goreng. Ini cocok untuk ibu-ibu yang ingin praktis tanpa harus ke pasar,” jelasnya.
Ia menilai konsep ini memiliki daya tarik tinggi, terutama bagi kalangan pekerja seperti ASN yang menginginkan kemudahan dalam menyiapkan menu harian.
Selisih harga yang tidak terlalu jauh dengan ikan segar dinilai bukan menjadi kendala selama menawarkan kepraktisan.
“Misalnya nila sekilo isi empat, dijual Rp45 ribu pun orang mau. Karena sudah berbumbu dan siap masak, itu jadi nilai tambah,” katanya.
Lebih jauh, Andi melihat inovasi ini bukan sekadar produk konsumsi, tetapi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru.
Ia menyebut kelompok ibu-ibu, termasuk yang sudah lanjut usia, dapat dilibatkan dalam proses produksi seperti menyiangi ikan dan pengemasan.
“Ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Ibu-ibu bisa ikut terlibat, jadi ada tambahan penghasilan,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menggagas pasar khusus ikan olahan yang bisa digelar secara berkala, salah satunya di kawasan depan Islamic Center.
Konsep pasar ini berbeda dari pasar ikan tradisional karena produk yang dijual sudah dalam bentuk siap masak, bukan ikan mentah.
Untuk mendukung pemasaran, pihaknya juga akan menggandeng organisasi seperti Dharma Wanita agar membantu memperluas jangkauan penjualan.
Dari sisi teknis, Andi menekankan pentingnya penanganan yang tepat agar kualitas ikan marinasi tetap terjaga. Ia mengingatkan produk harus disimpan dalam kondisi beku agar tidak cepat rusak.
“Kalau sistem marinasi, harus dalam kondisi beku. Jangan lama di luar. Kalau tidak, bisa merusak tekstur dan kualitas, bahkan mempercepat basi,” tegasnya.
Saat ini, Dinas Perikanan masih melakukan pendataan potensi produksi, termasuk pembudidaya yang menggunakan sistem bioflok. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku jika pasar mulai terbentuk.
“Kalau market sudah jelas, pembudidaya pasti semangat. Nanti kita bangun kemitraan, kapan panen, kita yang ambil,” ujarnya.
Ia menargetkan uji coba program ikan marinasi ini dapat mulai berjalan dalam waktu dekat, sekitar Mei hingga Juni mendatang.
Dengan langkah tersebut, Andi optimistis sektor perikanan di PPU dapat berkembang lebih dinamis dan mampu menjawab kebutuhan pasar modern yang serba praktis. (Bey)









