Seantero.id, PENAJAM – Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan inovasi pemasaran hasil perikanan melalui produk ikan marinasi siap masak.
Konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai jual ikan sekaligus memudahkan masyarakat mendapatkan bahan makanan siap diolah.
Kepala Dinas Perikanan PPU, Andi Trasodiharto, mengatakan salah satu persoalan yang perlu dijawab dalam pengembangan perikanan budidaya adalah kepastian pasar. Menurutnya, kekhawatiran hasil produksi tidak terserap sebenarnya dapat diatasi dengan membangun pola pemasaran baru.
“Yang kita takutkan kan pasar. Padahal sebenarnya kesulitan untuk pasar itu kan enggak. Kita bisa kerja sama dengan para penampung ikan, warung-warung pinggir jalan juga siap,” ujar Andi, Senin (31/8)
Ia kemudian melihat peluang dari tren makanan siap masak dengan mengembangkan ikan yang telah dibersihkan, diberi bumbu atau dimarinasi, kemudian dikemas menggunakan sistem vakum.
“Ikan itu yang siap goreng. Ikan disiang, dikasih bumbu, dipacking. Sistem marinasi,” jelasnya.
Konsep tersebut dinilai cocok dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menginginkan proses memasak lebih praktis. Konsumen cukup membuka kemasan dan mengolah ikan tanpa harus membersihkan maupun membumbuinya terlebih dahulu.
“Ibu-ibu PNS ini kan malas dia nyiangin ikan. Kalau tahunya goreng, gunting aja plastiknya sudah berbumbu, tinggal goreng. Masaknya tinggal rebus telur, makan lalapan sudah jadi menu malam,” katanya.
Menurut Andi, produk marinasi tersebut tidak terbatas pada satu jenis ikan. Berbagai komoditas seperti ikan layang, kembung, bandeng, nila, gurame, lele hingga ikan mas dinilai dapat dikembangkan dengan konsep serupa.
Produk yang sudah divakum kemudian disimpan dalam freezer sehingga masa simpannya lebih panjang dibandingkan ikan segar yang dibiarkan pada suhu ruang.
“Kalau untuk sistem marinasi itu harus dalam kondisi beku. Jadi kalau beku itu kan mungkin bolehlah dalam beberapa jam, setelah itu masukkan lagi dia beku,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga rantai dingin dalam proses penyimpanan dan distribusi. Produk tidak boleh terlalu lama berada di luar freezer karena dapat memengaruhi kualitas ikan maupun bumbu.
Rencana tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan. Dinas Perikanan PPU tengah mendata potensi produksi ikan, termasuk pembudidaya yang menggunakan sistem bioflok.
Andi berharap inovasi tersebut nantinya tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kalau memang pasarnya bagus, maka ini akan membangun mitra. Kami akan mengajak mitra-mitra pembudidaya ini, ‘Yuk panen kapan? Aku yang ambil,’” ungkapnya.
Ia menargetkan konsep tersebut mulai diuji coba dalam waktu mendatang sebagai langkah awal melihat respons pasar terhadap produk ikan marinasi di PPU. (Adv/Bby)









