Seantero.id, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini tengah mendapatkan sorotan tajam terkait penanganan kasus dugaan suap di lingkungan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Berbagai pihak mendesak agar lembaga antirasuah ini tidak hanya berhenti pada satu perusahaan saja, melainkan berani membongkar sistem mafia yang diduga telah menggurita selama bertahun-tahun.
Penyidikan ini dinilai telah memasuki fase yang sangat menentukan. Muncul kekhawatiran jika proses hukum hanya menyasar target permukaan, maka jaringan besar di baliknya akan memiliki kesempatan untuk menghilangkan jejak. Oleh karena itu, transparansi dan ketegasan penyidik menjadi kunci utama dalam menuntaskan perkara yang melibatkan hajat hidup orang banyak ini.
Analis kontra intelijen, Gautama Wiranegara, memberikan pandangan mendalam mengenai situasi krusial ini. Beliau menekankan bahwa arah penanganan perkara saat ini akan menentukan masa depan integritas instansi terkait. Desakan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak berhenti pada satu perusahaan dalam kasus suap di Direktorat Jenderal Bea Cukai semakin menguat.
“Dalam setiap operasi, fase setelah target pertama diamankan adalah penentu. Di titik itu terlihat apakah kita hanya menangkap pelaku, atau membongkar jaringan,” ujar Gautama dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Gautama juga menyoroti adanya indikasi keterlibatan banyak pihak, mengingat skala aliran dana yang diduga mencapai Rp7 miliar per bulan. Temuan berupa safe house dengan sitaan puluhan miliar rupiah memperkuat dugaan bahwa praktik ini tidak mungkin dilakukan sendirian. “Kalau hanya satu perusahaan yang ditetapkan sebagai pemberi, maka ada dua kemungkinan: kita belum melihat seluruh gambaran, atau kita memilih tidak melihatnya,” katanya menambahkan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan prinsip one target is never alone—bahwa satu target tidak pernah berdiri sendiri dalam ekosistem logistik yang besar. Jika momentum ini hilang, jaringan tersebut akan melakukan target hardening atau memperkuat diri sehingga pembuktian di masa depan menjadi jauh lebih sulit.
“Ini bukan lagi soal teknis. Ini soal apakah semua yang terdeteksi akan ditindak, atau hanya sebagian. Kalau hanya satu, publik akan membaca sebagai tebang pilih,” tegas Gautama pada hari yang sama di Gedung Merah Putih.
Saat ini, publik menanti langkah nyata dari KPK untuk menyeret semua pihak yang terlibat, termasuk perusahaan-perusahaan lain yang namanya mulai mencuat di ruang diskusi publik. Penuntasan kasus Bea Cukai secara menyeluruh diharapkan mampu memberikan efek jera sekaligus memperbaiki sistem birokrasi di tanah air. (Sen)









