Seantero.id, JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah tancap gas untuk memperkuat kedaulatan digital di kancah internasional. Melalui Sekretariat Kabinet (Seskab), Indonesia kini memfokuskan diri pada percepatan Penguasaan Teknologi strategis agar tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan zaman. Langkah besar ini diambil untuk memastikan bahwa fondasi ekonomi masa depan bangsa berpijak pada kemandirian inovasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungan terhadap perangkat luar negeri memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, melalui arah kebijakan baru ini, pemerintah optimis dapat menciptakan ekosistem Digital Modern yang lebih inklusif dan mandiri. Fokusnya bukan sekadar membeli lisensi, melainkan melakukan transfer pengetahuan yang mendalam agar putra-putri bangsa mampu merancang solusi teknologi dari hulu ke hilir.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menegaskan bahwa kerja sama internasional yang dijalin saat ini memiliki target yang sangat spesifik. “Melalui kerja sama tersebut, Indonesia menargetkan percepatan penguasaan teknologi strategis yang selama ini menjadi fondasi berbagai inovasi digital modern,” ujar Seskab saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Upaya ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi riset hingga pelaku industri kreatif. Pemerintah percaya bahwa dengan sinergi yang tepat, Indonesia bisa melompat jauh dari statusnya saat ini. Ambisi besarnya adalah mengubah posisi Indonesia agar lebih disegani dalam peta persaingan dunia.
Teddy juga menekankan bahwa visi ini merupakan bagian dari peta jalan besar menuju Indonesia Emas. “Kemitraan strategis ini sekaligus menandai langkah Indonesia bertransformasi dari konsumen teknologi menjadi produsen teknologi bernilai tinggi dalam rantai pasok global,” tegas Teddy di Jakarta pada Rabu (25/2/2026).
Perubahan status menjadi Produsen Teknologi ini diharapkan dapat mendongkrak nilai ekspor nasional secara signifikan. Dengan masuk ke dalam rantai pasok global, produk-produk inovatif buatan dalam negeri akan memiliki standar kualitas yang diakui secara internasional. Harapannya, di masa depan, label “Made in Indonesia” tidak hanya muncul pada produk manufaktur tradisional, tetapi juga pada perangkat-perangkat berteknologi tinggi yang digunakan oleh masyarakat dunia.
Transformasi ini tentu memerlukan waktu dan komitmen yang berkelanjutan. Namun, dengan penguasaan teknologi strategis yang tepat, Indonesia berada di jalur yang benar untuk menjadi pemain kunci dalam ekonomi digital di level global. (Sen)









