Viral ‘Cukup Saya yang WNI, Anakku Jangan’, Begini Komentar Psikiater

Video viral pernyataan kontroversial Dwi Sasetyaningtyas (Instagram: @sasetyaningtyas)

Seantero.id, JAKARTA – Media sosial tengah dihebohkan dengan video viral pernyataan  kontroversial ‘cukup saya Warga Negara Indonesia (WNI), anakku jangan’. Ucapan mencuri perhatian publik tersebut terlontar dari seorang perempuan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas (DS).

Video viral pernyataan DS ‘cukup saya WNI, anakku jangan’ diunggah dalam akun Instagram @sasetyaningtiyas, memicu banyak komentar netizen hingga banyak pengamat.

Tampak dalam video yang beredar viral dan membuat gaduh, DS membuka paket berisi surat dari Home office Inggris, yang menerangkan bahwa anak keduanya telah sah menjadi warga negara Inggris, dengan mendapat paspor resmi.

DS tampak gembira memamerkan anaknya tidak lagi menjadi Warga Negara Indonesia melainkan telah sah menjadi warga Inggris lengkap dengan dokumen.

Dengan perpindahan kewarganegaraan tersebut ia berharap agar kelak anaknya dapat bernasib lebih baik, dibandingkan dengan dirinya.

“Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang merubah nasib, dan masa depan anak-anakku,” tutur DS.

“Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah di terima jadi Warga Negara Inggris,” pamernya.

“I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan,” kata DS.

Menanggapi pernyataan DS yang kontroversial tersebut, psikiater ternama Tanah Air, dr Lahargo Kembaren, SpKJ. Menjelaskan bahwa ia melihat ada dinamika psikologis yang kerap menjadi pilihan seseorang di balik hal pribadi yang cenderung sensitif.

Psikiater tersebut mengatakan otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial seperti like, komentar, dan share. Hal ini membuat seorang individu terdorong membagikan sesuatu yang bersifat pribadi.

Selain kebutuhan validasi, pengguna media sosial saat ini umumnya kerap membuat platform menjadi ruang untuk menunjukkan identitas diri.

“Postingan sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif atau cara pandang terhadap dunia,” terangnya.

Dalam konteks isu kewarganegaraan seperti yang viral tersebut, unggahan dapat menjadi simbol kecemasan, aspirasi, atau harapan.

Psikiater tersebut mengingatkan agar kiranya media sosial tidak dijadikan ruang pemulihan psikis seseorang. Lahargo menyebut platform tersebut hanya dapat dijadikan ruang ekspresi sementara. Ia menegaskan perlunya untuk kembali memilah konten yang hendak dibagikan, cara mudah adalah dengan menerapkan future self.

Informasi terbaru, Dwi Sasetyaningtyas telah menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka atas pernyataan ‘cukup saya saja WNI anakku jangan’, yang disampaikannya melalui akun Instagram @sasetyaningtyas. Ia meminta maaf pada pihak-pihak yang merasa tersinggung, ataupun tidak nyaman atas ucapannya yang telah viral dan membuat heboh tersebut.(Dd)

Share it:

Baca Juga