PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) harus merelakan absennya Festival Tanjong Panajo tahun ini. Keterbatasan anggaran membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU hanya mampu memfokuskan pelaksanaan kegiatan budaya pada Festival Adat Belian Nondoi.
Festival Tanjong Panajo sebelumnya menjadi panggung utama ekspresi budaya pesisir PPU. Namun tahun ini, tradisi tersebut sementara tak digelar, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dirangkaikan dengan Festival Nondoi selama lima hari penuh.
Kepala Bidang Kebudayaan dan Produk Budaya Disbudpar PPU, Christian Nur Selamat, menyampaikan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi fiskal daerah. Menurutnya, alokasi anggaran yang terbatas tak memungkinkan penyelenggaraan dua festival secara bersamaan.
“Untuk tahun ini, Tanjong Panajo tidak digelar. Kita fokus ke Festival Nondoi saja karena anggaran kita terbatas,” kata Christian.
Festival Nondoi sendiri tetap akan dilangsungkan, meskipun dalam skala yang lebih sederhana dibanding tahun lalu. Jika pada 2024 digelar selama lima hari, tahun ini hanya berlangsung selama tiga hari. Beberapa elemen seperti pertunjukan kolosal dan partisipasi sanggar seni pun harus dibatasi demi efisiensi.
Christian mengakui keputusan ini bukan hal mudah. Festival Tanjong Panajo telah menjadi identitas budaya maritim yang lekat dengan masyarakat pesisir. Namun, pihaknya berupaya agar Festival Nondoi tetap bisa menjaga denyut kebudayaan daerah.
“Memang berat, karena Festival Tanjong Panajo punya nilai khas sebagai representasi budaya pesisir. Tapi kita harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran,” tutup Christian. (Adv/Diskominfo PPU)









