Seantero.id, JAKARTA – Presiden RI Jenderal (Purn) Prabowo Subianto memberikan arahan strategis dalam rapat kerja bersama anggota Kabinet Merah Putih, eselon I kementerian, serta direktur utama BUMN. Dalam momen taklimat Prabowo tersebut, Kepala Negara menyoroti berbagai tantangan modern yang dihadapi bangsa, mulai dari serangan siber hingga ketahanan sumber daya vital.
Salah satu poin utama yang ditekankan adalah dampak buruk penyebaran informasi palsu atau hoaks yang kini jauh lebih berbahaya dibanding ancaman militer konvensional. Menurutnya, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara seseorang merusak stabilitas sebuah negara melalui pembentukan opini publik yang menyesatkan.
“Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks,” ujar Prabowo dalam taklimat yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026) siang WIB. Ia menjelaskan bahwa penggunaan ribuan akun palsu dapat menciptakan efek gema (echo chamber) yang merusak. “Jadi, yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang bisa bikin heboh. Ini ada dalam pembelajaran intelijen, bagaimana merusak sebuah negara lain,” tambahnya.
Selain masalah informasi, Presiden juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap krisis global yang mencakup pangan, energi, dan air. Isu-isu dasar ini merupakan kunci keselamatan bangsa yang juga telah diproyeksikan oleh PBB dalam Sustainable Development Goals.
“PBB sudah meramalkan bahwa krisis dunia yang akan melanda adalah tiga hal yaitu krisis pangan, krisis energi, dan krisis air,” ungkap Prabowo. Terkait air, ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan melimpah, namun pengelolaannya harus diperbaiki. Ia menyentil masalah kerusakan alam seperti pembabatan hutan yang memicu kekeringan di beberapa wilayah.
Di sisi lain, Presiden memberikan apresiasi atas kinerja jajaran kabinetnya. Ia menilai selama satu setengah tahun masa kepemimpinannya, tercipta sebuah pemerintah efektif yang mampu menavigasi negara di tengah ketidakpastian global dan konflik dunia.
“Satu setengah tahun ini alhamdulillah kita telah membuktikan bahwa pemerintah kita efektif, pemerintah kita andal, dan pemerintah kita dapat melaksanakan tugas bernegara dengan benar dan baik,” terangnya. Menurut Presiden, keberhasilan ini terlihat dari berbagai prestasi nyata yang terukur secara matematis maupun fisik di lapangan.
Menutup arahannya, Presiden bersyukur Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas nasional meski situasi dunia sedang bergejolak. “Alhamdulillah kita dapat mengendalikan arah perkembangan, arah bernegara bangsa kita. Kita dapat navigasi melalui hal-hal berbahaya,” pungkasnya di hadapan para pejabat negara. (Sen)









