Selat Hormuz Kembali Dibuka! Angin Segar di Tengah Gencatan Senjata Israel dan Lebanon

Pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya bagi kapal-kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. (Tempo.co)

Seantero.id, TEHERAN – Kabar positif datang dari jalur perdagangan energi dunia. Jalur vital Selat Hormuz akhirnya dinyatakan terbuka sepenuhnya bagi aktivitas kapal komersial. Keputusan krusial ini diambil bertepatan dengan momentum gencatan senjata yang tengah berlangsung antara Israel dan Lebanon. Pembukaan jalur ini diharapkan mampu menstabilkan kembali pasokan minyak global yang sempat terganggu akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa pelonggaran akses ini merupakan respons terhadap situasi keamanan yang mulai mereda di wilayah perbatasan. Selama ini, selat tersebut menjadi titik nadi utama yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga stabilitas di area ini sangat memengaruhi harga energi di pasar internasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menjelaskan bahwa kebijakan ini bersifat situasional mengikuti perkembangan di lapangan. “Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” ujarnya melalui platform X pada Jumat (17/4/2026), sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.

Diketahui bahwa gencatan senjata selama 10 hari telah disepakati oleh pihak Israel dan Lebanon pada Kamis malam. Meski demikian, banyak pihak masih bersikap waspada. Pasalnya, belum ada kepastian penuh apakah kelompok bersenjata Hizbullah akan mematuhi kesepakatan tersebut secara total, mengingat konflik di wilayah Lebanon Selatan masih menyisakan bara ketegangan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan tanggapannya mengenai normalisasi jalur pelayaran ini. Ia menyebut selat itu kini sudah siap untuk aktivitas bisnis serta pelayaran penuh. Namun, Trump menegaskan bahwa pembukaan selat bukan berarti tekanan diplomatik terhadap Teheran berakhir. “Blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang,” tegas Trump dalam pernyataannya.

Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu memang telah membawa dampak kemanusiaan yang besar dengan ribuan korban jiwa. Jurnalis Al Jazeera, Alan Fisher, menilai bahwa posisi AS tetap tegas meski ada pelonggaran di selat tersebut. “Peluang bagi AS untuk mencabut blokade angkatan laut sebenarnya tidak pernah terlalu besar karena pemerintahan Trump melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih pada Iran,” katanya di Washington, Jumat (17/4/2026).

Menurut Fisher, fokus utama Washington tetap tertuju pada isu nuklir. “Jika Iran memberikan jaminan tersebut, apa yang akan mereka dapatkan sebagai imbalan menjadi pertanyaan besar,” pungkasnya. Kini, dunia internasional terus memantau apakah keterbukaan jalur pelayaran ini akan menjadi awal dari perdamaian yang lebih permanen di kawasan tersebut. (Sen)

Share it:

Baca Juga