Seantero.id, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bergerak cepat menyikapi dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Waru. Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, menegaskan langkah awal yang diambil adalah memastikan kondisi para siswa serta mengoordinasikan penanganan medis secara simultan.
“Toh, saat menerima informasi adanya indikasi gangguan kesehatan pada penerima manfaat MBG di Waru, kami langsung memberikan arahan cepat dan perintah yang jelas,” ujar Tohar, Kamis (12/2).
Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan segera diturunkan ke satuan pendidikan untuk memastikan jumlah dan kondisi siswa penerima manfaat yang terdampak. Di saat yang sama, Dinas Kesehatan diperintahkan mengonsolidasikan Puskesmas Waru guna memberikan layanan medis secara optimal.
“Istilahnya simultan. Disdik memastikan di sekolah, Dinkes fokus pada penanganan kesehatan,” katanya.
Tohar mengungkapkan, pemerintah daerah juga telah mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien dengan menyiagakan Puskesmas Petung apabila layanan di Waru tidak mencukupi. Namun berdasarkan laporan, penanganan di Puskesmas Waru dinilai masih memadai sehingga tidak diperlukan rujukan tambahan.
“Alhamdulillah, layanan di Puskesmas Waru relatif cukup sehingga tidak perlu evakuasi ke fasilitas lain,” jelasnya.
Selain penanganan medis, Pemkab PPU juga meminta Koordinator Wilayah SPPG untuk memperketat pengawasan terhadap mitra pengelola dapur MBG. Menurut Tohar, insiden ini harus menjadi pembelajaran agar tidak terjadi kelengahan dalam pengawasan bahan baku maupun proses penyajian makanan.
“Kejadian ini patut menjadi pelajaran. Jangan sampai lengah. Pengawasan kepada mitra harus lebih memadai,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar para mitra Badan Gizi Nasional (BGN) yang mengelola SPPG menempatkan siswa sebagai prioritas utama.
“Anggaplah para penerima manfaat itu sebagai anak kita sendiri. Dengan begitu ada tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik,” pesannya.
Lebih lanjut, Sekda menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan juga diminta melakukan pelacakan (tracking) terhadap bahan baku dan menu yang disajikan. Sampel makanan telah diamankan untuk dilakukan uji laboratorium.
“Informasi terakhir, sampel sudah berada di kepolisian untuk uji laboratorium lebih lanjut,” ungkapnya.
Hingga kini, hasil uji laboratorium tersebut masih belum keluar. Pemerintah daerah menegaskan akan menunggu hasil resmi sebelum menyimpulkan penyebab pasti insiden tersebut. (Bey)









