Rupiah Menguat Rabu Pagi: Harga Minyak Melandai di Tengah Eskalasi Timteg yang Masih Memanas

Ilustrasi nilai tukar rupiah (Istimewa)

Seantero.id, JAKARTA – Mata uang Garuda menunjukkan tajinya pada perdagangan tengah pekan ini. Nilai tukar Rupiah menguat terhadap dolar AS pada pembukaan pasar di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Pergerakan positif ini terjadi di tengah fluktuasi pasar global yang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, terutama terkait eskalasi Timteg (Timur Tengah).

Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah dibuka menguat 12 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp16.851 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp16.863 per dolar AS. Penguatan yang cukup signifikan ini menjadi angin segar bagi pasar domestik.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait penguatan terbatas ini. Menurutnya, ada beberapa faktor eksternal yang cukup dominan mempengaruhi pergerakan mata uang.

“Rupiah menguat dan diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi kenaikan terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak,” kata Lukman Leong kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Lukman juga menyoroti pengaruh politik Amerika Serikat yang memberikan sedikit sentimen positif ke pasar uang. “Ada harapan dari pernyataan Trump yang akan mengamankan Selat Hormuz, dan pernyataannya bahwa perang akan berakhir tidak lama lagi, walau belum tentu hal ini terjadi, namun memberikan sentimen yang positif,” ungkap dia. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa risiko besar masih membayangi. “Namun, perang AS-Israel versus Iran yang masih intens akan terus membebani rupiah,” ucapnya.

Di sisi lain, penguatan ini juga dipicu oleh langkah tegas otoritas moneter dalam negeri. Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa performa rupiah hari ini tak lepas dari peran aktif Bank Indonesia (BI) di pasar.

“Rupiah terapresiasi di tengah dugaan intervensi agresif BI untuk menahan rupiah agar tidak tembus ke level psikologis Rp17.000,” kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, di Jakarta pada hari yang sama.

Walau posisi mata uang sedang membaik, Rully mengingatkan bahwa fondasi penguatan ini belum sepenuhnya kokoh karena sangat bergantung pada stabilitas di Timur Tengah. “Namun, perbaikan ini masih rapuh dan sangat bergantung pada kelanjutan de-eskalasi di Timur Tengah,” ucap Rully.

Efektivitas langkah stabilisasi BI juga menjadi kunci utama. Jika kondisi luar negeri tidak segera membaik, hal ini tentunya akan menambah beban bagi mata uang kita. “Diharapkan bakal ada sentimen positif lagi yang dapat mendorong penguatan rupiah lebih lanjut,” pungkas Rully. (Sen)

Share it:

Baca Juga