Rupiah Melemah Terimbas Ketegangan di Timur Tengah dan Eskalasi Konflik AS-Iran

Rupiah (Metrototvnews.com)

Seantero.id, JAKARTA – Nilai tukar mata uang Garuda sedang mengalami tekanan cukup berat pada pertengahan pekan ini. Sentimen global yang tidak menentu membuat posisi rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah mencuatnya kabar mengenai potensi konflik AS-Iran yang semakin meruncing.

Pasar keuangan global saat ini sedang dalam mode waspada. Para investor cenderung menarik modal mereka dari negara-negara berkembang dan mengalihkannya ke aset yang dinilai lebih aman. Ketidakpastian ini membuat banyak pihak memilih memegang dolar AS sebagai langkah penyelamatan nilai aset mereka di tengah kemelut internasional yang belum mereda.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva, memberikan pandangannya mengenai situasi pelik ini. Menurutnya, gejolak di kawasan Arab tersebut memberikan dampak domino yang cukup signifikan bagi stabilitas moneter dalam negeri. “Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan sentimen risk-off dan mendorong arus dana ke aset safe haven seperti dolar AS,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Selain masalah pelarian modal, faktor komoditas juga menjadi beban tambahan bagi mata uang lokal. Sebagai negara importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga energi dunia yang sering terjadi saat ada gangguan keamanan di jalur distribusi utama dunia.

“Kenaikan harga minyak dunia akibat risiko gangguan pasokan turut menjadi faktor yang membebani mata uang emerging markets, termasuk rupiah, mengingat dampaknya terhadap tekanan inflasi dan neraca impor energi,” ungkap Taufan menambahkan.

Meski demikian, otoritas moneter Indonesia memastikan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang terkendali. Cadangan devisa yang cukup besar menjadi benteng utama dalam menahan gempuran fluktuasi global ini. Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar untuk memastikan volatilitas rupiah tetap terjaga agar tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi domestik.

“Ini mencerminkan aliran devisa yang tetap terjaga dan ketahanan sektor eksternal yang relatif kuat,” ujar dia saat memberikan keterangan resmi di Jakarta pada Rabu (4/3/2026).

Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan tetap tenang namun tetap waspada dalam menyikapi dinamika pasar. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu meredam dampak negatif dari konflik AS-Iran sehingga stabilitas ekonomi tetap terjamin di tengah bayang-bayang ketegangan dunia. (Sen)

Share it:

Baca Juga