Seantero.id, SURABAYA – Dolar Amerika Serikat sempat menyentuh angka Rp 17.800 pada 28 Mei 2026 lalu, menanggapi hal tersebut sejumlah pakar mengingatkan agar masyarakat dapat mengelola dengan baik keuangannya, buntut melemahnya rupiah dalam beberapa waktu terakhir ini.
Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Budi Wahyu Mahardika. Dalam komentarnya mengatakan masyarakat di Tanah Air perlu mengatur kembali keuangannya, salah satunya dimulai dari kebiasaan pengeluaran.
Pakar ekonomi tersebut menjelaskan bahwa langkah pertama adalah dengan mengurangi ketergantungan pada utang yang sifatnya konsumtif.
“Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif,” ujar Budi, dikutip dari laman UMSURA, 30 Mei 2026.
Menurutnya, pengeluaran yang kecil kerap tidak disadari, namun demikian hal tersebut dapat menguras pendapatan bulanan.
Hal lain yang perlu dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu saat ini adalah, mengindari cicilan barang yang dinilai tidak mendesak.
“Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting, cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik,” tutur Budi.
Pengajar manajemen di UMSURA tersebut menyarankan agar masyarakat di Tanah Air saat ini membangun dana darurat secara konsisten, meski menyisihkan nominal yang tidak banyak.
Di tengah kondisi rupiah yang makin tertekan, Budi juga menyarankan agar masyarakat di Tanah Air mempunyai penghasilan tambahan. Ia mengatakan, ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat masyarakat lebih rentan saat terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau perlambatan ekonomi.
Pelemahan nilai tukar rupiah menaikan biaya produksi industri karena tingginya harga bahan baku impor. Untuk menekan kerugian, tidak sedikit perusahaan di Indonesia saat ini terpaksa melakukan efisiensi dengan penyetopan penerimaan karyawan hingga melakukan PHK.(Dd)









