Seantero.id, NTT – Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dihebohkan dengan adanya puluhan paus pilot yang terdampar lalu mati di pesisir Pantai Mbadokai, di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Ndao.
Puluhan paus pilot yang terdampar lalu mati tersebut diduga karena adanya kerusakan organ ekolokasi.
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Akbar Reza. Dalam penjelasannya pada 31 Maret 2026, mengatakan bahwa ekolokasi berguna bagi ikan paus mencari jalan dan sumber makanan dari pantulan gelombang.
Menurutnya, organ ekolokasi dapat rusak karena beberapa faktor, seperti tumpang tindih kegiatan manusia di kapal, survei seisimik, gempa, dan juga eksplorasi minyak dan gas dengan sonar yang mengeluarkan gelombang suara.
Faktor lainnya juga seperti adanya kerusakan organ akibat parasit atau pencemaran lingkungan seperti plastik, serpihan kapal atau jaring nelayan.
Peristiwa terdamparnya puluhan paus di kawasan NTT tersebut bukanlah pertama kalinya, hal serupa juga terjadi pada tahun 2024 lalu.
Saat itu ada sekitar 50 ekor ikan paus pilot yang terdampar di Alo, jumlah tersebut terbilang sangat banyak hingga membuat heboh warga sekitar.
Akbar menerangkan bahwa kejadian terdamparnya puluhan ekor paus pilot tersebut berulang terjadi di area NTT, Laut Sawu, dan sekitar Kupang sebelah barat, karena perairannya merupakan jalur imigrasi tahunan paus pilot dari arah selatan.
Meskipun berulang terjadi, Dosen Fakultas Biologi UGM tersebut menyebut bukan berarti hal yang alami.
“Memang ya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali. Meskipun tentu sering terjadi, bukan berarti alami,” jelasnya.
Menurutnya, diperlukan pembedahan lebih lanjut untuk dapat mengetahui pasti kematian puluhan ekor paus pilot yang terdampar di Rote, NTT beberapa waktu lalu.(Dd)









