Produksi Cabai PPU Belum Cukupi Kebutuhan, Pasokan Masih dari Luar Daerah

Pasokan cabai dari luar daerah masih termasuk dalam rantai distribusi di PPU. (Seantero)

Seantero.id, PENAJAM – Produksi cabai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Dinas Pertanian PPU mencatat kebutuhan cabai mencapai sekitar 31–32 ton per bulan, sementara produksi lokal pada periode terakhir hanya sekitar 18,7 ton.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian kebutuhan cabai masyarakat masih harus dipenuhi dari luar daerah.

“Kalau kita mengacu pada 205 ribu penduduk, kebutuhan kita sekitar 31 sampai 32 ton per bulan. Hanya saja memang di bulan kemarin terjadi penurunan karena produksi kita hanya 18,7 ton,” ujar Gunawan, Selasa (1/9).

Dengan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan produksi lokal, pasokan cabai dari luar daerah masih menjadi bagian dari rantai distribusi di PPU. Beberapa daerah yang selama ini menjadi sumber pasokan antara lain Banjar, Surabaya dan Sulawesi.

“Ya, tentunya dipenuhi dari luar. Yang paling sering kan Banjar, Surabaya sama Sulawesi,” katanya.

Gunawan menjelaskan, Dinas Pertanian tidak memiliki data secara rinci mengenai volume cabai yang masuk dari luar daerah setiap kali pengiriman. Hal tersebut berada dalam ranah perdagangan karena berkaitan dengan distribusi dan rantai pasok komoditas.

“Yang tahu persis itu di perdagangan. Kami ini tidak tahu persis itu, karena aturan distribusi dan rantai pasok itu ada di perdagangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, PPU juga belum memiliki stakeholder khusus yang menangani komoditas tertentu secara spesifik, termasuk dalam mengelola informasi terkait arus pasokan cabai dari luar daerah.

Di sisi lain, pemerintah daerah berupaya mendorong peningkatan produksi lokal melalui pemberian bantuan bibit cabai. Bantuan tersebut berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten PPU dan bersifat stimulan.

Bantuan akan diberikan di empat kecamatan dengan sasaran kelompok wanita. Kelompok tersebut meliputi Tim Penggerak PKK, Dasawisma dan kelompok wanita tani, dengan fokus utama pada kelompok wanita Tim Penggerak PKK di tingkat kecamatan, desa dan kelurahan.

“Enggak banyak, ini kan hanya sifatnya stimulan. Untuk empat kecamatan nanti kita bagikan,” ungkap Gunawan.

Menurutnya, budidaya cabai oleh kelompok masyarakat dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan produksi sekaligus membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, ia mengakui dinamika harga dan permintaan komoditas pertanian sulit diprediksi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola konsumsi masyarakat dan situasi rantai pasok.

“Rantai pasok usaha ini kan unik ya. Karena enggak bisa diduga, enggak bisa diprediksi,” tuturnya.

Gunawan berharap peningkatan produksi cabai lokal dapat dilakukan secara bertahap. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat ditekan, sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani PPU. (Adv/Bey)

Share it:

Baca Juga