Plafon Ambruk dan Air Menggenang, Potret Fasilitas SMAN 8 PPU Hari Ini

Gor SMAN 8 PPU yang tergenang air. (Berby/Seantero)

Seantero.id, PENAJAM – Tercatat sebagai sekolah negeri terakhir di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tak menampik bahwa SMAN 8 Penajam Paser Utara masih berada dalam krisis sarana prasarana pembelajaran. Meskipun menjadi sekolah negeri terakhir, belum menjadikannya sebagai sekolah yang laik di tengah lonjakan ratusan siswa yang belajar di sana.

Miris nasibnya, selain kondisi ruang belajar yang berbagi gedung dengan SMPN 21 PPU serta SDN 038 PPU, Gedung olahraga (GOR) sekolah tersebut dilaporkan kerap tergenang air saat hujan. Tak hanya itu, plafon bangunan mengalami kerusakan hingga roboh di beberapa titik, seperti area gudang dan kantin. Bahkan, sebagian atap yang bocor sudah dipoles agar air tidak merembes jatuh dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Kondisi plafon SMAN 8 PPU di area kantin yang ambruk dan bolong. (Berby/Seantero)

 

Humas SMAN 8 PPU, Lia Kumalasari, menjelaskan bahwa GOR selama ini digunakan bersama oleh jenjang SD, SMP, dan SMA, terutama untuk kegiatan keagamaan. Namun, kondisi bangunan yang terus memburuk membuat pemanfaatannya semakin terbatas.

“Terakhir dipakai itu waktu kegiatan Maulid. Setelah kondisi seperti ini, sudah tidak memungkinkan lagi digunakan,” ujarnya, Senin (9/2).

Menurut Lia, hingga saat ini belum ada bantuan perbaikan atau renovasi terhadap GOR tersebut. Pihak sekolah dasar dan menengah yang berada dalam satu kawasan telah mengajukan surat permohonan perbaikan kepada pihak terkait.

“Sudah ada yang bersurat, tapi sejauh ini belum ada tindak lanjut,” katanya.

Selain persoalan banjir dan plafon yang rusak, GOR juga dinilai kurang ideal untuk kegiatan pertemuan. Lia menyebutkan, struktur ruangan yang diperuntukkan sebagai fasilitas olahraga menyebabkan suara bergema saat digunakan untuk acara non fisik.

“Kalau dipakai rapat atau pertemuan, suaranya mantul, jadi apa yang disampaikan tidak terdengar jelas. Memang ini kan ruang olahraga, bukan aula,” jelasnya.

Ia menambahkan, genangan air diduga berasal dari air hujan dan kondisi lingkungan sekitar bangunan. Saluran drainase di area luar beberapa kali digali secara manual, namun tidak bertahan lama dan kembali menyebabkan air menggenang.

Pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, provinsi, maupun instansi terkait untuk melakukan perbaikan menyeluruh.

“Perbaikan kecil masih bisa kami upayakan secara internal. Namun, untuk kerusakan besar seperti GOR dan plafon bangunan, kami memerlukan dukungan anggaran serta kebijakan dari pihak berwenang,” tukasnya. (Bey)

Share it:

Baca Juga