Seantero.id, PENAJAM – Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menegaskan dua siswa SMP yang terlibat dalam perkelahian dan sempat viral bukan merupakan atlet binaan resmi organisasi tersebut.
Sekretaris Umum Perbasi PPU, Deddy, menyatakan kedua siswa itu hanya kebetulan bermain basket dan tidak terdaftar dalam program pembinaan.
“Mereka bukan atlet Perbasi, hanya siswa yang sedang berolahraga dan kebetulan bermain basket,” kata Deddy, Senin (27/4) via pesan WhatsApp.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden bermula dari persoalan sepele. Korban disebut ingin meminjam bola milik pelaku, namun ditolak disertai ucapan yang memicu emosi. Ketegangan meningkat ketika korban mencoba mendorong pelaku hingga berujung perkelahian.
Dalam kejadian tersebut, pelaku dilaporkan memeluk korban dan menggigit bagian telinga hingga menyebabkan luka serius.
Saat ini korban masih menjalani perawatan di RSUD Aji Putri Botung. Pemerintah daerah turut memberikan perhatian, termasuk dukungan pemulihan fisik dan mental bagi korban.
Bupati PPU, Mudyat Noor, bahkan turun langsung menjenguk korban untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga.
“Kami sudah mengunjungi anak tersebut, mencoba memulihkan mentalnya, sekaligus memberikan semangat kepada orang tuanya. Mudah-mudahan ini membantu mereka bangkit,” ujarnya.
Selain penanganan medis, korban juga direncanakan mendapatkan pendampingan psikologis guna memastikan kondisi mentalnya tetap stabil pascakejadian.
Perbasi PPU menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut sekaligus meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terkait pembinaan atlet.
“Perlu kami luruskan karena ini menyangkut citra pembinaan. Persepsi di masyarakat bisa berbeda-beda,” jelas Deddy.
Ia menegaskan, apabila di kemudian hari terdapat atlet binaan yang terlibat dalam tindakan kekerasan, organisasi akan memberikan sanksi tegas.
“Pembinaan tidak hanya soal prestasi, tetapi juga karakter. Jika itu atlet, pasti ada sanksi keras,” tegasnya.
Kasus ini turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Upaya pencegahan akan diperkuat melalui edukasi, pengawasan, serta pembinaan karakter di lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang. (Bey)









