Seantero.id, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai memetakan potensi produksi ikan budidaya sebagai bagian dari upaya membangun pasar yang lebih pasti bagi pembudidaya.
Kepastian pasar dinilai menjadi faktor penting agar masyarakat tidak ragu meningkatkan produksi.
Kepala Dinas Perikanan PPU, Andi Trasodiharto, mengatakan persoalan utama yang kerap menjadi kekhawatiran pembudidaya bukan semata-mata kemampuan menghasilkan ikan, melainkan ke mana hasil produksi tersebut akan dijual.
“Kuncinya sekarang kan di pasar. Kalau marketnya jelas, orang itu berbudidaya kan lebih semangat,” ujar Andi, Senin (31/8).
Karena itu, Dinas Perikanan tidak ingin pengembangan budidaya berjalan tanpa diikuti strategi pemasaran. Pemerintah daerah tengah mendata jumlah pembudidaya, termasuk masyarakat yang mengembangkan ikan menggunakan sistem bioflok.
“Saat ini lagi kami mendata populasi ikan dulu. Berapa sih yang mengembangkan sistem bioflok? Saya juga punya di rumah punya bioflok. Itu nanti akan kita coba,” katanya.
Menurut Andi, apabila hasil uji coba menunjukkan pasar yang baik, pemerintah akan mendorong terbentuknya kemitraan dengan pembudidaya. Dengan pola tersebut, hasil panen dapat diserap melalui jaringan pemasaran yang disiapkan.
“Kalau memang pasarnya bagus, maka ini akan membangun mitra. Kami akan mengajak mitra-mitra pembudidaya ini, ‘Yuk panen kapan? Aku yang ambil,’” jelasnya.
Selain menggandeng penampung ikan dan pelaku usaha, Dinas Perikanan juga berencana membuat ruang pemasaran khusus. Salah satu gagasannya ialah menghadirkan pasar ikan secara berkala di kawasan Islamic Center.
“Nanti saya juga sempat diskusi bagaimana kalau di depan Islamic Center itu satu bulan sekali mungkin kita undang para penjual-penjual ikan, kita jual di sini,” ungkap Andi.
Konsep yang ditawarkan bukan pasar ikan basah. Produk yang dipasarkan akan diarahkan dalam bentuk ikan yang telah dibersihkan dan dimarinasi, kemudian dikemas sehingga lebih praktis dibawa konsumen.
“Nah, jadi pasar ikan tapi bukan basah. Sudah enggak disiang di sini, cuma sudah sajian,” katanya.
Andi juga membuka peluang melibatkan kelompok perempuan dalam pemasaran. Salah satunya melalui Dharma Wanita yang dinilai dapat membantu memperkenalkan dan menjual produk hasil perikanan kepada masyarakat.
Ia menilai inovasi pemasaran diperlukan agar hasil budidaya tidak berhenti sebagai ikan segar dengan harga jual yang mudah ditekan rantai distribusi. Produk bernilai tambah diharapkan memberikan ruang keuntungan lebih besar bagi pembudidaya.
“Kalau marketnya terbuka, maka bahan baku ini akan bekerja. Kuncinya sekarang kan di pasar,” pungkas Andi. (Adv/Bby)









