Seantero.id, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya angkat bicara menanggapi kegaduhan yang terjadi di ruang publik belakangan ini. Dewan Pertimbangan MUI meminta agar perdebatan mengenai pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) segera diakhiri. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk menjaga stabilitas dan harmoni di tengah masyarakat yang mulai terfragmentasi akibat perbedaan interpretasi.
Pihak MUI menilai bahwa diskusi yang berkembang saat ini sudah tidak lagi produktif. Alih-alih memberikan pencerahan, polemik tersebut justru dikhawatirkan dapat memicu sentimen lama yang seharusnya sudah terkubur. Oleh karena itu, diperlukan kearifan dari semua pihak untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih dan menyeluruh tanpa adanya prasangka buruk.
Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, menyampaikan pesan mendalam terkait situasi ini. “Menanggapi berkembangnya diskursus di ruang publik terkait potongan pernyataan Bapak Jusuf Kalla mengenai memori kolektif peristiwa Ambon, kami memandang perlu untuk memberikan imbauan demi menjaga harmoni dan kohesi sosial di tengah masyarakat,” kata Zainut dalam pesan elektroniknya pada Senin (20/4/2026) di Jakarta.
Zainut menegaskan bahwa sosok JK adalah tokoh besar yang memiliki rekam jejak panjang dalam mendamaikan berbagai konflik di tanah air. “Kami memandang pentingnya pelurusan konteks agar masyarakat tidak terjebak pada interpretasi yang menyimpang dari maksud aslinya,” tegasnya. Menurutnya, masyarakat perlu membudayakan tabayun atau klarifikasi sebelum memberikan penilaian sepihak terhadap sebuah informasi yang beredar di media sosial.
Dalam pernyataan resminya, MUI mengeluarkan tujuh poin sikap untuk meredam suasana. Salah satu poin utamanya adalah mengajak masyarakat untuk kembali fokus pada nilai persaudaraan. “Tokoh-tokoh bangsa adalah guru bagi kita semua. Mari kita rawat pesan-pesan perdamaian dengan lisan yang santun dan hati yang jernih. Masa depan Indonesia yang damai adalah amanah kolektif yang harus kita jaga dengan penuh kebijaksanaan,” pungkas Zainut Tauhid Sa’adi.
Dengan adanya imbauan resmi ini, diharapkan tensi di ruang siber dapat menurun. MUI berharap para tokoh agama dan masyarakat bisa menjadi teladan dalam menggunakan diksi yang menyejukkan agar persatuan nasional tetap kokoh dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah. (Sen)









