Seantero.id, SURABAYA – Pemerintah Indonesia tengah bersiap mengambil langkah besar dalam peta energi nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan pengumuman krusial yang membawa angin segar bagi kemandirian bangsa. Indonesia ditargetkan akan berhenti melakukan impor solar secara total dalam waktu dekat melalui optimalisasi sumber daya alam lokal.
Langkah berani ini bukan tanpa alasan. Kebijakan tersebut sejalan dengan implementasi program biodiesel 50 persen (B50) berbasis kelapa sawit yang tengah digenjot pemerintah. Dengan melimpahnya stok kelapa sawit di tanah air, ketergantungan pada bahan bakar fosil dari luar negeri diharapkan dapat segera diputus.
Mentan Amran secara terang-terangan menyebutkan tanggal pasti terkait pemberhentian pasokan energi dari luar negeri tersebut. “Solar kita tidak impor lagi. Pada 1 Juli 2026 kita stop, B50 masuk,” kata Amran saat berbicara di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang dikutip pada Senin (20/4/2026).
Menurut Amran, strategi ini adalah bagian dari visi besar untuk memperkuat kedaulatan energi nasional. Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena komoditas kelapa sawit yang sangat besar. Kelapa sawit tidak hanya menjadi bahan pangan, tetapi juga solusi masa depan untuk energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
“Ini energi masa depan Indonesia, karena sumbernya dari sawit. Sawit jadi solar, sawit juga jadi bensin,” ujar Mentan Amran di hadapan para akademisi. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga sedang menyiapkan pengembangan bensin sawit bekerja sama dengan PTPN IV PalmCo. Proyek ini akan dimulai dari skala kecil sebagai rintisan industri besar. “Kalau ini berhasil, kita buka skala besar. Jadi masa depan Indonesia cerah,” tuturnya optimis.
Selain membahas energi, dalam kunjungannya di Surabaya tersebut, Amran juga mengapresiasi inovasi teknologi pertanian, termasuk traktor listrik yang efisien. Traktor ini dinilai mampu menekan biaya operasional petani karena harganya yang terjangkau dan tidak bergantung pada bahan bakar minyak.
“Traktor ini harganya separuh dari yang biasanya. Kemudian efektif, tidak menggunakan solar tetapi menggunakan elektrik. Jadi ini sangat hemat,” pungkas Amran menutup kunjungannya. Dengan kombinasi B50 dan teknologi listrik, Indonesia diharapkan benar-benar bebas dari beban impor solar pada 1 Juli mendatang. (Sen)









