Memaknai Jumat Agung, Gereja Katedral Jakarta Gelar Pentas Jalan Salib Kreatif ‘Lux In Nihilo’

Dalam rangkaian Tri Hari Suci, Gereja Katedral Jakarta mementaskan Jalan Salib Kreatif 2026 jelang ibadah Jumat Agung. (tribunnews.com)

Seantero.id, JAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Lapangan Banteng saat umat Katolik memasuki momen sakral dalam kalender liturgi. Sebagai bagian tak terpisahkan Dalam rangkaian Tri Hari Suci, Gereja Katedral Jakarta mementaskan Jalan Salib Kreatif 2026 jelang ibadah Jumat Agung. Acara yang memadukan spiritualitas dan seni ini berhasil menyedot perhatian ribuan jemaat yang hadir untuk merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus.

Pentas Jalan Salib tahun ini tampil berbeda dengan balutan drama musikal yang menggugah emosi. Pertunjukan tersebut secara visual menampilkan perjalanan pilu wafatnya Sang Juru Selamat. Tak kurang dari 145 muda-mudi Katolik dari paroki setempat terlibat aktif memberikan persembahan terbaik mereka dalam pementasan kolosal ini.

Kepala Humas Katedral Jakarta Pusat, Susyana Suwadie, menjelaskan makna di balik prosesi tersebut. “Hari ini kami memasuki rangkaian Tri Hari Suci hari kedua, di mana umat Katolik memperingati ibadah Jumat Agung, yaitu peringatan sengsara dan wafat Kristus,” ujar Susyana di Gereja Katedral Jakarta, pada Jumat (3/4/2026).

Tahun ini, tema yang diangkat adalah ‘Lux In Nihilo’ yang memiliki arti mendalam, yakni ‘cahaya dalam kehampaan’. Sebagaimana dijelaskan Susy, pemilihan tema tersebut merupakan sebuah ajakan agar umat mampu bangkit dari berbagai kesulitan hidup. “Jadi mengajak perjalanan iman untuk keluar dari krisis makna, dari gelap menuju terang, dari ketiadaan menuju, dari kehampaan menuju ke sesuatu terang,” tuturnya.

Alur cerita dalam Pentas Jalan Salib ini berfokus pada figur Simon Petrus, murid Yesus yang sempat terpuruk dan mengalami krisis iman. Penonton diajak melihat bagaimana Petrus melewati fase penyesalan hingga akhirnya menemukan kebangkitan rohani. “Itu yang akhirnya dia bisa bangkit lagi dalam terang yang tentu saja karena mendapatkan terang dari Kristus,” jelas Susy lebih lanjut.

Kualitas pertunjukan ini terasa sangat profesional berkat tangan dingin sutradara muda Yogi Pranowo. Drama yang memadukan unsur musik dan tari ini disutradarai oleh sutradara muda Yogi Pranowo. Kehadiran koreografer dan penata musik jempolan membuat setiap adegan terasa hidup dan menyentuh kalbu. Pementasan tersebut juga melibatkan koreografer serta penata musik yang merancang keseluruhan pertunjukan agar mampu membawa umat masuk dalam perjalanan iman, sehingga dapat memaknai peristiwa sengsara hingga wafat Kristus.

Melalui seni kreatif ini, Gereja Katedral Jakarta berharap pesan kasih dan pengorbanan pada momen Jumat Agung dapat tersampaikan dengan cara yang lebih relevan bagi generasi muda, sekaligus memperteguh iman seluruh umat dalam menghadapi tantangan zaman. (Sen)

Share it:

Baca Juga