Seantero.id, PASER – Masjid Agung Nurul Falah di Kabupaten Paser kembali dipadati umat muslim yang melaksanakan salat tarawih pada awal Ramadan 1447 Hijriah, Minggu malam (15/3/2026).
Sejak menjelang salat Isya sekitar pukul 19.00 Wita, jamaah mulai berdatangan ke masjid yang berada di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan R Suprapto, Kecamatan Tanah Grogot tersebut. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga, pasangan, hingga anak-anak yang ikut meramaikan suasana ibadah malam Ramadan.
Pantauan awak media Seantero.id di lokasi menunjukkan suasana masjid yang penuh dengan aktivitas jamaah. Anak-anak tampak antusias mengikuti salat Isya dan tarawih bersama orang tua mereka. Beberapa di antaranya terlihat bermain dengan sajadah atau tertidur di sela-sela kegiatan ibadah.
Bagi sebagian warga, melaksanakan tarawih di Masjid Agung Nurul Falah memiliki kesan tersendiri karena masjid ini merupakan salah satu ikon religi di Kabupaten Paser.
Salah seorang jamaah, Achmad Syamsir Awal (31), mengaku selalu berusaha melaksanakan tarawih di masjid bersejarah yang berdiri sejak 1942 tersebut setiap Ramadan selama bertugas di Paser.
“Saya sudah beberapa tahun bekerja di Paser. Setiap Ramadan biasanya tarawih di Masjid Agung Nurul Falah sebelum nanti pulang kampung ke Sulawesi,” ujarnya, (15/3).
Hal serupa disampaikan Arianti, warga asal Kota Balikpapan yang mengaku baru pertama kali melaksanakan tarawih di masjid tersebut.
Menurutnya, Masjid Agung Nurul Falah merupakan salah satu destinasi religi yang selalu dikunjungi masyarakat saat berada di Kabupaten Paser.
“Ini masjid yang sangat dikenal di Paser. Rasanya kurang lengkap kalau ke sini tapi tidak singgah atau salat di masjid ini,” tuturnya.
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, Masjid Agung Nurul Falah juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Kabupaten Paser.
Masjid ini memiliki sejarah panjang. Bangunan awalnya didirikan pada 1942 dengan nama Masjid Jami. Dalam proses pembangunannya, masyarakat setempat dibantu seorang warga Jepang bernama Zet Zu Zuqu yang diketahui telah memeluk Islam.
Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang ikut mencari kayu ulin dari kawasan hutan di daerah Petung, yang kini menjadi wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara untuk dijadikan bahan utama pembangunan masjid. Kayu tersebut kemudian dibawa melalui aliran Sungai Kandilo menuju Tanah Grogot.
Seiring perkembangan waktu, masjid ini beberapa kali mengalami renovasi. Bangunan yang awalnya berbahan kayu direnovasi menjadi konstruksi beton pada 1980. Kemudian kembali dipugar secara besar-besaran pada 2004 hingga rampung pada 2008.
Masjid Agung Nurul Falah juga sempat beberapa kali mengalami perubahan warna, dari hijau menjadi ungu, lalu kembali hijau sejak 2017 hingga sekarang.
Saat ini, masjid berlantai tiga tersebut mampu menampung hingga sekitar 4.000 jamaah dan tetap menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan sekaligus kebanggaan masyarakat Kabupaten Paser. (Bey)









