Seantero.id, JAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran telah memicu alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi dunia. Bukan sekadar isu keamanan, konflik ini berdampak langsung pada meroketnya harga energi dan membengkaknya biaya logistik internasional. Situasi di Timur Tengah yang kian memanas membuat para pelaku industri khawatir akan terjadinya gangguan rantai pasok yang masif.
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi konsekuensi instan dari ketegangan AS-Iran ini. Mengingat posisi Iran sebagai salah satu pemain kunci di pasar minyak, gangguan pada produksi maupun jalur distribusinya dapat mencekik pertumbuhan ekonomi banyak negara. Dampak domino ini sangat terasa pada sektor transportasi dan pengiriman barang, di mana biaya operasional ikut melonjak tajam seiring mahalnya harga bahan bakar.
Pakar logistik nasional menyoroti betapa krusialnya jalur perdagangan di wilayah tersebut. “Eskalasi konflik ini langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara,” kata Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, dikutip Senin (2/3/2026).
Kondisi ini semakin diperparah oleh riwayat ekonomi global yang memang belum sepenuhnya pulih. Yukki mengingatkan bahwa tekanan sudah dirasakan sejak tahun sebelumnya akibat kebijakan perdagangan negara adidaya. “Sepanjang tahun 2025 lalu kondisi ekonomi global sudah penuh berbagai tekanan, khususnya dari goncangan tarif dagang AS,” ungkapnya.
Jika ketegangan ini tidak segera mereda, dampak jangka panjang akan sangat terasa pada daya beli masyarakat akibat inflasi komoditas. “Jika konflik ini berkepanjangan, niscaya pelemahan lanjutan pada pertumbuhan ekonomi di berbagai negara juga terjadi akibat dari kenaikan harga komoditas energi yang tinggi dan ongkos logistik yang meningkat,” ujar Yukki.
Oleh karena itu, langkah antisipasi dari pemangku kebijakan sangatlah mendesak. “Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia agar segera mengkalkulasi kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario lanjutan dari konflik ini bila berkepanjangan. Kami berharap konflik ini tidak berkepanjangan dan stabilitas kawasan Timur Tengah segera terjadi,” pungkas Yukki menutup keterangannya. (Sen)









