Seantero.id, SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dalam beberapa waktu terakhir kembali marak terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia mendapat sorotan dari berbagai pihak, termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi.
Menteri PPPA Kabinet Merah Putih tersebut menyoroti dampak psikologis yang dapat menimpa para anak yang mengalami keracunan MBG, termasuk yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo, Jawa Timur.
Dalam tanggapannya, Menteri PPPA mengatakan bahwa proses pemulihan anak perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi kesehatan fisik, namun juga sisi psikologis dan sosial.
Trauma healing bukan sekedar pelengkap dalam proses pemulihan anak. Anak perlu diberikan ruang untuk bercerita bahwa mereka berada dalam kondisi aman,” tutur Arifah, 5 September 2026, saat mengunjungi Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur.
Ia menjelaskan, dukungan psikologis perlu terus diberikan pasca anak mendapat perawatan dari tim medis dan kembali ke pesantren atau sekolah.
“Jangan sampai anak trauma untuk makan, atau kembali ke sekolah atau justru mendapatkan stigma, disalahkan atau merasa takut untuk kembali beraktivitas,” kata Arifah.
Terkait insiden dugaan keracunan yang kembali marak terjadi, ia meminta semua pihak untuk menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi yang dilakukan oleh pihak berwenang.
Menurutnya, penelusuran perlu dilakukan terhadap seluruh rangkaian penyediaan makan, mulai dari bahan baku hingga distribusi penerima manfaat.
Arifah menyebut dalam menyikapi insiden tersebut diharapkan tidak hanya mencari siapa pihak yang bersalah, sementara celah sistemnya tidak diperbaiki.
Diketahui, berdasarkan catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), korban keracunan program MBG sejak tahun 2025 hingga awal September 2026 terus bertambah mencapai total lebih dari 43 ribu orang. (Dd)









