Kampung Wisata Pringgondani, Destinasi “Ngangeni” Kebanggaan Balikpapan

Kampung Wisata Pringgondani Balikpapan. (Berbi Ollan/Seantero)

Seantero.id, BALIKPAPAN – Pagi itu, sebelum jarum jam menunjukkan pukul 07.00 Wita, antrean pengunjung sudah mengular di pintu masuk Kampung Wisata Pringgondani, Balikpapan. Di balik gerbang, suara gamelan Jawa perlahan mengalun, pedagang mulai menata dagangan, sementara aroma kuliner tradisional bercampur dengan udara segar kawasan hutan yang masih rindang.

Begitu loket dibuka, ribuan orang langsung memadati area Pasar Tumpah Pringgondani. Suasana “tumpah” benar-benar terasa. Pengunjung berjalan berdesakan menikmati konsep pasar tradisional yang dikemas dalam nuansa budaya Nusantara.

Pasar wisata ini berada di Jalan Gunung Binjai RT 14, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan. Dari pusat Kota Balikpapan, tepatnya kawasan Simpang Rapak Ramayana, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 56 menit menggunakan kendaraan roda dua.

Meski cukup jauh dari pusat kota, antusiasme masyarakat tidak pernah surut. Pasar Tumpah Pringgondani dibuka setiap Sabtu, Minggu dan hari libur nasional mulai pukul 07.00 hingga 16.00 Wita. Namun, pasar terkadang tutup lebih cepat apabila dagangan para pedagang telah habis terjual.

Harga tiket masuk pun relatif terjangkau, yakni Rp10 ribu per orang. Area parkir motor tersedia cukup luas, sementara kendaraan roda empat biasanya terparkir di sepanjang jalan menuju kawasan pasar.

Hari itu merupakan momen spesial. Pasar Tumpah Pringgondani tengah menggelar “Pasar Keramat”, agenda budaya yang rutin diadakan setiap awal bulan. Para pedagang tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sunda hingga Dayak.

Di sudut kawasan, kelompok kerawitan dari Sasono Langen Budoyo memainkan gamelan, menghadirkan suasana khas pedesaan Jawa di tengah hutan tropis Kalimantan.

“Ini bukan sekadar pasar. Kami ingin masyarakat bisa merasakan tradisi, budaya dan suasana kebersamaan,” ujar Surata, owner sekaligus pengelola Kampung Wisata Pringgondani.

Nuansa pedesaan benar-benar terasa di kawasan itu. Pengunjung dapat menikmati aneka kuliner tradisional seperti pecel, dawet, cenil, jajanan pasar hingga buah-buahan lokal. Minuman tradisional pun menjadi salah satu daya tarik utama.

Namun untuk menyesuaikan selera generasi muda atau Gen Z, pengelola juga menyediakan berbagai olahan modern dan makanan kekinian. Harga makanan di kawasan pasar terbilang ramah di kantong, berkisar Rp5 ribu hingga Rp25 ribu tergantung pilihan menu.

Selain berburu kuliner, pengunjung juga dapat bersantai di aula terbuka yang cukup luas. Banyak keluarga memilih menikmati suasana ala piknik menggunakan terpal kecil di bawah pohon-pohon rindang yang memenuhi kawasan wisata tersebut.

Keunikan konsep wisata itulah yang membawa Kampung Wisata Pringgondani menorehkan prestasi di tingkat nasional. Pada November 2025 lalu, Pringgondani meraih predikat terbaik pertama tingkat Kalimantan Timur dalam kategori desa wisata.

Prestasi itu kemudian mengantarkan Pringgondani bersaing bersama 1.138 desa wisata dari seluruh Indonesia. Hasilnya, Kampung Wisata Pringgondani berhasil meraih juara harapan IV tingkat nasional.

“Alhamdulillah kami bersyukur. Ini berkat dukungan Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kementerian Pariwisata RI dan juga masyarakat,” katanya.

Penghargaan tersebut berdampak langsung terhadap lonjakan kunjungan wisatawan. Jika pada hari biasa kunjungan berkisar 2.000 orang per hari, maka saat akhir pekan atau momen khusus jumlah pengunjung bisa mencapai 7.000 hingga 8.000 orang.

Di balik keramaian pasar, Pringgondani juga menyimpan konsep edukasi lingkungan hidup. Kawasan wisata seluas sekitar dua hektare itu ditanami sekitar 66 spesies pohon khas hutan Kalimantan seperti kayu ulin, kapur, kamper dan meranti.

“Selain mengangkat ekonomi rakyat lewat UMKM, kami juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian hutan,” ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, pengelola menghadirkan program adopsi pohon. Melalui program itu, masyarakat maupun pejabat dapat menjadi “orang tua angkat” bagi pohon di kawasan Pringgondani selama 10 tahun.

Uang kayu, alat transaksi di Pasar Tumpah Pringgondani, Balikpapan. (Berbi Ollan)

Tak hanya budaya dan lingkungan, Pasar Tumpah Pringgondani juga menghadirkan pengalaman transaksi unik melalui “uang kayu”. Berasal dari kayu ulin, uang khusus berbentuk lembaran kayu tipis itu digunakan sebagai alat transaksi di area pasar.

Nominalnya beragam, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu dengan total per hari yang mereka siapkan senilai Rp500 juta. Setiap lembar dilengkapi barcode berbeda sehingga tidak mudah dipalsukan.

Menariknya, uang kayu tersebut dirancang oleh dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Himawan Wicaksono, dan telah memiliki hak paten.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Kampung Wisata Pringgondani mencoba menghadirkan ruang yang berbeda. Sebuah tempat di mana budaya, ekonomi rakyat dan pelestarian alam berjalan beriringan.

Bagi masyarakat Balikpapan dan Kalimantan Timur, Pringgondani kini bukan hanya sekadar pasar wisata. Ia telah menjelma menjadi destinasi yang “ngangeni”, tempat orang datang untuk menikmati suasana tradisional yang perlahan mulai langka ditemukan di perkotaan. (Bey)

Share it:

Baca Juga