Seantero.id, JAKARTA – Dinamika politik tanah air kembali menghangat setelah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara terbuka mengungkit kembali peran besarnya dalam perjalanan karier Jokowi. Pernyataan ini memicu berbagai analisis dari para pengamat, salah satunya datang dari peneliti senior Citra Institute, Efriza. Menurutnya, sikap blak-blakan sosok yang akrab disapa Daeng Ucu ini merupakan puncak dari kegeraman yang selama ini terpendam.
Efriza memberikan analisis mendalam terkait pernyataan JK yang menegaskan dirinya memiliki jasa besar dalam perjalanan karier politik Joko Widodo (Jokowi). Ia menilai hal tersebut bukan sekadar pengingat sejarah, melainkan bentuk pertahanan diri atas perlakuan yang diterima belakangan ini.
“Pernyataan JK itu adalah sikap kumulatif emosi dirinya yang kecewa. Jika dicermati, JK marah karena merasa dilecehkan oleh kelompok ‘Termul’ (Ternak Mulyono) maupun oleh Gibran sebagai wakil presiden,” kata Efriza kepada media, sebagaimana dilansir dari JPNN.com pada Senin (20/4/2026).
Ada beberapa faktor pemicu yang membuat JK akhirnya bersuara keras. Salah satunya adalah ucapan Gibran Rakabuming Raka terkait kebijakan BBM yang dianggap kurang tepat penyampaiannya. “Meski bahasanya hormat, pernyataan Gibran tentu kurang bijaksana. Seharusnya dilakukan dengan diskusi langsung sebagai bentuk penghormatan kepada mantan wapres, bukan dilempar begitu saja ke publik,” lanjutnya.
Tak hanya itu, munculnya berbagai tudingan miring terhadap JK, mulai dari isu pendanaan gerakan tertentu hingga tuduhan penistaan agama, dianggap sebagai serangan personal yang sistematis. Efriza menilai serangan-serangan tersebut muncul lantaran sikap kritis JK yang kerap membela kepentingan rakyat.
Lebih lanjut, Efriza ingin mengingatkan kembali memori Mei 2014, saat Jokowi mengakui peran JK yang memboyongnya dari Solo ke Jakarta. “Tanpa nasihat JK, peluang Jokowi diajukan Megawati sebagai capres sangat kecil. Ibu Megawati itu sangat dekat dengan JK. Jangan lupa, pengambil keputusan tunggal di PDIP adalah Megawati, itulah mengapa akhirnya Jokowi disandingkan dengan JK saat itu,” paparnya.
Meski demikian, klaim ini tetap berisiko menimbulkan sentimen negatif. Bagi kelompok pendukung setia Jokowi, pernyataan ini mungkin dianggap terlalu menonjolkan jasa pribadi. “Bagi kelompok ‘Termul’, pernyataan JK seolah mengabaikan faktor lain yang jauh lebih besar, seperti momentum politik, dukungan rakyat, dan citra merakyat Jokowi sendiri,” pungkas Efriza. (Sen)









