Seantero.id, PENAJAM – SMAN 8 Penajam Paser Utara (PPU) memiliki perjalanan panjang yang tak lepas dari dinamika kebijakan daerah sejak awal pendiriannya. Sekolah yang kini menampung ratusan siswa itu bermula dari konsep sekolah terpadu yang menggabungkan jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Gagasan tersebut muncul sebagai solusi pemerataan pendidikan di wilayah PPU, agar akses belajar bagi masyarakat bisa lebih mudah dan terjangkau. Seiring berjalannya waktu, kebijakan pendidikan daerah mengalami perubahan. Konsep sekolah terpadu pun tidak lagi dipertahankan sepenuhnya. SMAN 8 PPU kemudian berkembang menjadi satuan pendidikan menengah atas yang berdiri sendiri di bawah naungan pemerintah provinsi.
Humas SMAN 8 PPU, Lia Kumalasari, menuturkan bahwa cikal bakal SMA dimulai pada 2008. Saat itu, kebijakan daerah membuka jenjang SMA lebih dulu, menyusul kemudian SD dan SMP.
“Awalnya bangunan berbentuk huruf L, akses jalan masih becek, dengan segala keterbatasan. Kelas pertama hanya dua rombongan belajar, semuanya kelas X,” ujarnya, Senin (9/2).
Konsep awal sekolah ini bahkan dirancang sebagai sekolah terpadu plus bilingual. Para guru perintis harus melalui seleksi ketat, termasuk uji kemampuan bahasa Inggris selain kompetensi pedagogik.
“Dulu ada enam guru awal, tiga bapak-bapak dan tiga ibu-ibu. Kami juga sempat dijanjikan insentif karena konsepnya ingin seperti sekolah bertaraf internasional,” kata Lia.
Namun, perubahan kepemimpinan daerah turut membawa perubahan kebijakan. Fokus sekolah kemudian dikembalikan pada jenjang SD dan SMP, sementara keberadaan SMA kembali menjadi tanda tanya. Kondisi ini membuat para perintis SMA 8 sempat berada dalam ketidakpastian arah pengembangan sekolah.
Seiring waktu, diputuskan bahwa SMA akan dibangun kembali secara terpisah. Lokasi awal sempat direncanakan di Kelurahan Lawe-Lawe Atas, namun batal terealisasi. Saat ini, lahan baru telah disiapkan di Kelurahan Nipah-Nipah, tepatnya di belakang Perumda Benuo Taka. Pembangunan gedung SMA tersebut ditargetkan paling lambat pada 2027.
Saat ini, SMAN 8 PPU memiliki 12 rombongan belajar dengan jumlah siswa lebih dari 300 orang dan tenaga pendidik sekitar 20 orang. Keterbatasan sarana masih menjadi tantangan, bahkan ruang pertemuan sekolah harus difungsikan sebagai ruang kelas.
“Kami belum punya ruang pertemuan khusus, semuanya dimanfaatkan untuk belajar,” jelasnya.
Meski demikian, harapan tetap terjaga. Lia menyebutkan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur telah melakukan kunjungan ke sekolah sebagai bagian dari proses pembahasan pembangunan.
“Kami berharap pembangunan gedung SMA bisa segera terealisasi agar kegiatan belajar mengajar lebih optimal,” pungkasnya. (Bey)









