Seantero.id, BEKASI – Keluhan mulai terdengar dari para ibu rumah tangga menyusul adanya lonjakan harga LPG nonsubsidi kemasan 5,5 kg dan 12 kg. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini dirasakan langsung oleh konsumen di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Berdasarkan pantauan, persentase kenaikan harga gas tersebut melampaui angka 18 persen, sebuah angka yang dinilai sangat tinggi bagi pengeluaran rumah tangga.
Di wilayah Pulau Jawa, Bali, hingga NTB, harga Bright Gas 5,5 kg kini naik sebesar Rp17.000 menjadi Rp107.000 per tabung. Sementara itu, untuk ukuran 12 kg, kenaikannya mencapai Rp36.000, sehingga harga per tabungnya kini berada di angka Rp228.000. Kondisi ini tak pelak membuat masyarakat kaget karena lonjakan terjadi di tengah kebutuhan dapur yang tidak bisa ditunda.
Keresahan ini diungkapkan oleh Dewi (42), warga Kota Bekasi, yang mengaku terkejut dengan nominal baru tersebut. “Kaget juga ya naiknya tinggi banget. Yang 12 kg aja itu sebelum naik beli di pasar Rp230 ribu loh. Apalagi sekarang?” keluh Dewi kepada media pada Selasa (21/4/2026) di Bekasi.
Senada dengan Dewi, Juita (56) warga Tangerang juga merasakan beban yang sama. “Ini kenaikannya besar banget. Tapi saya beli memang sudah Rp200 ribu-an, Rp215 ribu sebelum naik ini. Gimana ini, naik lagi,” tuturnya di Tangerang pada hari yang sama.
Meski merasa terbebani, banyak konsumen memilih tetap menggunakan gas LPG Nonsubsidi karena merasa tabung 3 kg bukan peruntukannya. Salah satunya adalah Tia (25), pekerja di Jakarta Selatan. Ia lebih memilih ukuran 5,5 kg untuk kebutuhan bulanannya agar tidak sering berganti tabung. “Gas yang Bright Gas pink ini rata-rata ganti satu bulan sekali. Kalau yang gas hijau takutnya ribet ganti mulu. Kasihan tukang gasnya kalau harus bolak-balik antar ke unit (apartemen),” ujar Tia di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menariknya, opsi beralih ke kompor listrik pun belum menjadi pilihan populer bagi para ibu rumah tangga. Selain masalah “feel” memasak yang dianggap berbeda, faktor efisiensi panas dan potensi naiknya tarif listrik menjadi alasan utama. “Kalau pakai listrik, enggak dapat feel masaknya. Ada teknik besar-kecilin api kan kalau masak di kompor gas,” tutup Dewi menjelaskan alasannya bertahan pada gas nonsubsidi meski harga terus melambung. (Sen)









