Seantero.id, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari sektor energi akhir pekan ini. PT Pertamina (Persero) secara resmi melakukan penyesuaian harga untuk deretan produk BBM nonsubsidi. Kenaikan yang cukup signifikan ini memicu perhatian berbagai pihak, terutama terkait dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat di tengah situasi global yang tidak menentu.
Berdasarkan data terbaru dari situs MyPertamina pada Sabtu (18/4/2026), beberapa jenis bahan bakar mengalami lonjakan harga yang cukup tajam. Pertamax Turbo kini dibanderol Rp19.400 per liter, naik dari harga sebelumnya Rp13.100. Begitu pula dengan Dexlite yang menyentuh angka Rp23.600 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter. Beruntung, harga Pertamax (RON 92), Pertalite, dan Biosolar dilaporkan masih tetap stabil.
Merespons kebijakan ini, Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, turut angkat bicara. Ia menilai bahwa meskipun kebijakan ini terasa berat dan mendadak, dinamika pasar energi dunia memang sangat menekan.
“Dalam situasi global dan tekanan terhadap sektor energi, kita memahami bahwa penyesuaian harga BBM bisa menjadi opsi yang pada akhirnya harus diambil pemerintah. Namun, momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik,” kata Rivqy kepada media di Jakarta pada Sabtu (18/4/2026).
Sosok yang juga merupakan Ketua Umum DKP Panji Bangsa ini menekankan agar pemerintah tidak menutup mata terhadap dampak domino yang mungkin terjadi. Transparansi mengenai beban subsidi dan ketersediaan pasokan sangat penting agar tidak terjadi simpang siur informasi di masyarakat.
“Kami meminta pemerintah menjelaskan secara komprehensif bagaimana kondisi sebenarnya sektor BBM kita saat ini. Ini penting agar masyarakat tidak hanya menerima kebijakan, tetapi juga memahami urgensinya,” tambahnya.
Komisi VI juga memberikan catatan khusus agar kenaikan pada jenis bahan bakar dengan oktan tinggi ini tidak dijadikan alasan untuk menaikkan harga pangan. Stabilitas ekonomi nasional harus menjadi prioritas utama agar kesejahteraan warga tetap terjaga.
“Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan ini tidak merembet ke harga-harga kebutuhan pokok. Stabilitas harga pangan dan barang penting lainnya harus tetap dijaga, sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus,” pungkas Rivqy.
Hingga saat ini, pengawasan terhadap distribusi BBM nonsubsidi terus diperketat guna memastikan stok tetap aman di seluruh SPBU tanah air. (Sen)









