Seantero.id, SAMARINDA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda masih melakukan uji coba operasional 10 unit insinerator pengolah sampah yang ditempatkan di sembilan titik berbeda di Kota Tepian.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso mengatakan pengoperasian insinerator dilakukan secara bertahap sambil terus memantau dampaknya terhadap lingkungan, khususnya kualitas udara di sekitar lokasi.
“Sudah dilakukan uji coba di sembilan titik lokasi penempatan insinerator dan 10 unit mesin. Saat ini masih terus dilakukan uji coba,” ujar Suwarso, Senin (18/5).
Menurutnya, selama proses pengujian berlangsung, tim bidang pengendalian pencemaran DLH turut melakukan pengukuran kualitas udara. Hasil sementara menunjukkan kondisi udara masih berada di bawah ambang batas yang ditentukan.
Suwarso menjelaskan insinerator yang digunakan merupakan tipe Wisanggeni 9 yang dirancang tanpa cerobong asap langsung ke udara. Asap hasil pembakaran akan dihisap menggunakan blower lalu dialirkan ke bak penampungan air agar tidak langsung terlepas ke atmosfer.
“Jadi asap sisa pembakaran itu dihisap melalui blower lalu diarahkan ke bak-bak air, sehingga tidak menguap ke udara,” katanya.
Selain itu, abu hasil pembakaran juga direncanakan dimanfaatkan kembali sebagai bahan campuran pembuatan paving block.
DLH Samarinda saat ini masih menyempurnakan pola operasional mesin, termasuk penguatan standar keselamatan kerja bagi petugas di lapangan. Hal itu dinilai penting karena suhu pembakaran insinerator dapat mencapai sekitar 800 derajat celsius.
“Kami ingin menemukan skema kerja yang baik dan aman. Karena ini lokasi pembakaran dengan suhu tinggi, maka aspek safety harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.
Pemerintah Kota Samarinda juga telah mengalokasikan anggaran bagi tenaga kerja yang bertugas memilah dan mengelola sampah di lokasi insinerator.
DLH menargetkan operasional insinerator dapat berjalan optimal dalam beberapa bulan ke depan. Selain pengujian mesin, penataan lingkungan sekitar lokasi juga dilakukan, termasuk penanaman pohon untuk meminimalkan dampak asap.
“Mudah-mudahan bulan depan sudah mulai jalan. Sekarang masih uji coba sambil dilakukan perbaikan lingkungan,” tutur Suwarso.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda juga terus mematangkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan.
Suwarso mengungkapkan, tim gabungan dari pemerintah pusat telah melakukan verifikasi lapangan pada April lalu. Tim tersebut terdiri atas perwakilan Danantara, Kementerian Koordinator Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri, hingga PLN Pusat.
Menurutnya, sejumlah syarat utama pembangunan PLTSa telah dipenuhi, mulai dari kesiapan lahan, ketersediaan sumber air, hingga tambahan lahan pengolahan limbah hasil pembakaran.
“Prinsipnya, poin-poin yang menjadi catatan dari tim Jakarta sudah kami penuhi. Samarinda juga disebut menjadi salah satu prioritas karena dinilai memenuhi syarat administrasi maupun kesiapan lapangan,” pungkasnya. (Bey)









