Seantero.id, PENAJAM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mendorong pengambilan sampel air dari void bekas tambang segera dilakukan selagi kondisi cuaca belum memasuki periode hujan.
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH PPU, Rochmat Agus Purwanto, mengatakan kondisi tanpa hujan dinilai menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pemeriksaan kualitas air. Pasalnya, masuknya air hujan dan material dari sekitar kawasan berpotensi memengaruhi sejumlah parameter yang akan diuji.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Total Suspended Solids (TSS) atau jumlah padatan tersuspensi di dalam air. Material lumpur yang terbawa ketika hujan berpotensi membuat kadar TSS meningkat.
“Kalau ada hujan pasti TSS tinggi karena ini kan lumpur masuk. Harapan saya segera. Kalau oke, sudah ambil. Pas momen ini, momen enggak ada hujan,” kata Rochmat, Sabtu (29/8).
Sejauh ini, DLH bersama pihak terkait telah mendatangi lokasi calon sumber air tersebut. Namun, kegiatan sebelumnya masih sebatas pengecekan lokasi dan menentukan titik-titik yang akan menjadi tempat pengambilan sampel.
Pengambilan sampel untuk mengetahui kualitas air secara menyeluruh belum dilakukan. Karena itu, DLH masih menunggu koordinasi dan arahan lebih lanjut sebelum tim kembali turun ke lapangan.
Rochmat mengatakan pengujian menjadi tahapan penting karena air dari void tersebut tengah dipertimbangkan untuk mendukung kebutuhan air masyarakat. Kualitasnya harus dipastikan terlebih dahulu melalui pemeriksaan laboratorium berdasarkan parameter yang dipersyaratkan.
“Nanti ada parameter yang harus kita cermati. Karena kami enggak mau blunder. Karena ini untuk kebutuhan masyarakat, kebutuhan umat dan teman-teman saudara kita yang membutuhkan air bersih tersebut,” ujarnya.
DLH juga tidak akan memberikan rekomendasi apabila nantinya terdapat parameter kualitas air yang melampaui baku mutu. Menurut Rochmat, keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama sebelum sumber air tersebut dapat dimanfaatkan.
“Kalau satu parameter melebihi ambang batas, saya enggak akan rekomendasi. Berisiko bagi kami. Berisiko juga bagi laboratoriumnya,” tegasnya.
Selain kondisi air di dalam void, pengujian diperlukan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh lingkungan di sekitar lokasi. Terlebih, aktivitas maupun aliran dari bagian hulu dapat memengaruhi kondisi sumber air.
Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi dasar penting sebelum air diputuskan dapat digunakan lebih lanjut sebagai sumber air baku.
Rochmat memastikan dari sisi personel, DLH PPU telah siap melakukan pengambilan sampel. Pihaknya tinggal menunggu arahan pimpinan serta koordinasi dengan Perumda Air Minum Danum Taka dan pihak terkait lainnya.
“Kami tinggal tunggu arahan pimpinan saja. Kami siap ke lapangan, kami siap juga timnya. Timnya teman-teman siap semua,” pungkasnya. (Adv)









