Seantero.id, PENAJAM – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus mengintensifkan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah. Langkah ini dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari satuan pendidikan hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Kepala Seksi Pendidikan Disdikpora PPU, Suharti, menegaskan bahwa pembentukan karakter peserta didik tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar menjadi kunci utama dalam menciptakan iklim pendidikan yang aman dan kondusif.
“Isu karakter anak saat ini membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, kami tidak hanya fokus pada pembelajaran, tetapi juga memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah,” kata Suharti, Rabu (4/2).
Sebagai bentuk keseriusan, Disdikpora PPU telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPKSP) di setiap sekolah jenjang SD dan SMP sejak 2023 hingga 2024. Tim ini bertugas melakukan deteksi dini serta menangani potensi tindakan kekerasan yang muncul di lingkungan sekolah.
Selain itu, pemerintah daerah juga membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (Satgas PPKSP) di tingkat kabupaten. Satgas tersebut dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati dan melibatkan lintas OPD guna memperkuat koordinasi penanganan kasus.
“Dengan adanya tim di sekolah dan satgas di kabupaten, setiap unsur sudah memahami peran dan tanggung jawabnya. Jika ada indikasi kenakalan atau kekerasan, penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya.
Suharti menambahkan, pendidikan karakter sejatinya telah terintegrasi dalam kurikulum dan layanan sekolah, seperti mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, serta layanan Bimbingan dan Konseling.
Namun demikian, ia menekankan bahwa peran keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian anak. Tanpa dukungan orang tua dan masyarakat, upaya yang dilakukan sekolah dinilai tidak akan berjalan optimal.
“Sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai karakter, tetapi lingkungan rumah tetap sangat menentukan keberhasilannya,” tutup Suharti. (Bey)









