Dinkes Paser Siaga Dampak El Nino, Edukasi Kesehatan Digencarkan hingga Puskesmas

Dinkes Paser imbau waspada dampak El Nino. (Ist)

Seantero.id, PASER – Dinas Kesehatan Kabupaten Paser meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan penyakit seiring ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan memicu cuaca ekstrem dan kemarau panjang.

Kepala Dinkes Paser, Amri Yulihardi, mengatakan perubahan pola iklim akibat El Nino berpotensi membawa dampak langsung terhadap kondisi kesehatan masyarakat.

“Fenomena ini menjadi perhatian karena berisiko memicu peningkatan gangguan kesehatan akibat perubahan iklim yang ekstrem,” ujarnya, Senin (20/4).

Menurut Amri, pihaknya tidak ingin hanya bertindak saat kasus meningkat. Upaya pencegahan dilakukan sejak dini melalui sosialisasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat di berbagai lapisan.

Program edukasi tersebut digelar secara luas melalui fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), hingga rumah sakit yang tersebar di wilayah Paser. Ia menyebut kegiatan telah menjangkau 19 puskesmas, 105 pustu, dan dua rumah sakit.

Dalam sosialisasi itu, masyarakat diberi pemahaman mengenai penyakit yang berpotensi muncul saat kemarau panjang, sekaligus langkah sederhana untuk mencegahnya. Warga juga diminta lebih memperhatikan kondisi tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

“Kesadaran masyarakat sangat penting. Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami gejala, agar bisa segera ditangani,” tegasnya.

Selain ancaman penyakit akibat cuaca panas, Dinkes Paser juga menyoroti risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap meningkat saat musim kering. Asap dari karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut, iritasi mata, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis disebut paling berisiko terdampak.

Amri menambahkan, saat kualitas udara memburuk, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker juga dianjurkan sebagai perlindungan tambahan guna meminimalkan paparan polusi udara.

“Pada musim kemarau panjang, penyakit yang muncul umumnya dipicu oleh polusi udara. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (Bey)

Share it:

Baca Juga