Seantero.id, BALIKPAPAN – Nama Pringgondani mungkin terdengar unik bagi sebagian orang. Namun di balik nama itu, tersimpan cerita budaya, keluarga hingga mimpi besar menjadikan sebuah kampung wisata lokal dikenal hingga tingkat internasional.
Di tengah ramainya Pasar Tumpah Pringgondani, sang owner, Surata, bercerita tentang asal-usul nama yang kini mulai dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Balikpapan.
“Pringgondani itu nama satria dalam cerita Mahabarata. Satrio Pringgondani atau Gatotkaca, anaknya Bima dari tokoh Pandawa,” ujarnya, Minggu (10/5).
Kecintaannya terhadap budaya pewayangan membuat nama itu dipilih sebagai identitas kawasan wisata yang dibangunnya. Namun ternyata, ada cerita lain yang lebih personal.
Nama tersebut juga diambil dari nama anak keduanya, Satrio Pringgondani.
“Jadi ada dua makna. Pertama dari Mahabarata karena saya suka budaya wayang, kedua dari nama anak saya,” katanya sambil tersenyum.
Nuansa budaya memang terasa kuat di kawasan wisata itu. Namun Pasar Tumpah Pringgondani tidak hanya menghadirkan suasana tradisional semata. Pengelola juga mencoba menyesuaikan konsep pasar dengan perkembangan generasi muda.
Di satu sisi, pengunjung masih bisa menemukan kuliner tradisional seperti pecel, dawet hingga jajanan berbahan singkong. Namun di sisi lain, tersedia pula tenant makanan dan minuman kekinian yang disukai anak muda.
“Kalau anak-anak muda kan belum tentu suka makanan tradisional semua. Makanya kami siapkan juga yang modern atau kekinian,” jelas Surata.
Menurutnya, konsep itu sengaja dibuat agar Pasar Tumpah Pringgondani bisa menjadi ruang bersama lintas generasi. Tidak hanya orang tua, tetapi juga generasi muda.
Strategi tersebut tampaknya berhasil. Pengunjung yang datang bukan hanya berasal dari Balikpapan, tetapi hampir dari seluruh wilayah Kalimantan Timur.
“Kalau pengunjung itu dari mana-mana. Ada dari Kutai Barat, Mahakam Ulu, Paser, PPU, Kutai Timur, Bontang, Samarinda,” terangnya.
Popularitas Kampung Wisata Pringgondani semakin meningkat setelah meraih juara pertama tingkat Kalimantan Timur pada 2025 dalam kategori kampung wisata.
Prestasi itu berlanjut di tingkat nasional dengan meraih juara harapan IV dari ribuan desa wisata se-Indonesia.
Kini, Pringgondani bahkan tengah dipersiapkan untuk mengikuti ajang tingkat Asia.
“Sekarang masih pendampingan dari Kementerian Pariwisata. Rencananya nanti ikut tingkat Asia, mungkin tahun depan,” tuturnya.
Pasar Tumpah Pringgondani sendiri pertama kali diluncurkan pada 3 September 2023. Sementara peresmian resminya dilakukan pada 2 April 2024.
Tak lama setelah diresmikan, kawasan wisata itu langsung menjadi perhatian nasional. Pada Juni 2024, Pringgondani menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi peserta Apeksi atau Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia.
Sebanyak 89 wali kota dari berbagai daerah disebut sempat datang menikmati suasana pasar wisata tersebut.
Tak hanya pejabat, sejumlah komunitas juga mulai berdatangan. Salah satunya komunitas motor The Dudas Minus One yang sempat singgah dan berkumpul di salah satu pondok di kawasan wisata.
Karena sering digunakan komunitas tersebut, pondok itu akhirnya diberi nama “Pondok The Dudas”.
Di balik suasana tradisional yang dihadirkan, Pringgondani juga memiliki inovasi unik berupa penggunaan “uang kayu” sebagai alat transaksi di dalam kawasan pasar.
Uang tersebut dirancang oleh dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Himawan Wicaksono, lengkap dengan barcode dan sistem keamanan khusus.
“Uang ini bukan asal bikin. Sudah dipatenkan dan punya barcode masing-masing,” kata Surata.
Bagi Surata, Pasar Tumpah Pringgondani bukan hanya soal wisata atau tempat berjualan. Ia ingin tempat itu menjadi ruang yang menyatukan budaya, ekonomi rakyat dan pelestarian lingkungan dalam satu kawasan.
Di tengah modernisasi kota, Pringgondani hadir membawa nuansa berbeda. Tempat di mana orang bisa menikmati tradisi, mendengar gamelan, berjalan di tengah hutan kecil Kalimantan dan merasakan kembali suasana pasar rakyat yang mulai jarang ditemukan. (Bey)









