Babak Baru Konflik Timur Tengah: Presiden Iran dan Trump Ungkap Syarat Mutlak Akhiri Perang

Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Reuters)

Seantero.id, TEHERAN – Eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington mulai menunjukkan titik terang setelah memasuki pekan kelima. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan negaranya untuk menyudahi pertikaian dengan AS dan Israel. Namun, hal ini tidak datang begitu saja, melainkan dengan syarat adanya jaminan keamanan yang absolut agar agresi militer tidak terulang kembali di masa depan.

Hingga Rabu (1/4/2026), perang yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan ini tercatat telah memakan banyak korban jiwa dan mengganggu stabilitas energi global. Pezeshkian menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukanlah sekadar gencatan senjata sementara, melainkan penghentian permusuhan secara total.

“Kami memiliki niat yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik ini, menyediakan syarat esensial, khususnya jaminan diperlukan untuk mencegah berulangnya agresi,” kata Pezeshkian saat berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dikutip TRT World pada Rabu (1/4/2026). Ia juga menambahkan bahwa “Solusi untuk menormalisasi situasi adalah dengan menghentikan serangan agresif.”

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal penarikan pasukan dalam waktu dekat. Trump mengklaim bahwa tujuan utama negaranya untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir telah tercapai. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Selasa (31/3/2026), ia menyatakan bahwa militer Amerika akan segera meninggalkan wilayah tersebut.

“Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya. Mungkin dua pekan, mungkin tiga pekan,” ujar Trump. Ia menilai kekuatan militer Iran saat ini sudah sangat melemah dan butuh waktu lama untuk pulih kembali. “Jika mereka datang ke meja perundingan, itu bagus. Tetapi tak masalah mereka datang atau tidak, kami telah membuat mereka mundur,” tambahnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut memberikan penekanan bahwa komunikasi yang terjadi saat ini melalui utusan AS, Steve Witkoff, bukanlah negosiasi formal melainkan pertukaran pesan. Kepada Al Jazeera pada Selasa (31/3/2026), Araghchi meminta pihak Gedung Putih, terutama Trump, untuk berkomunikasi dengan rasa hormat. Ia menegaskan bahwa kedaulatan Iran dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya demi melayani kepentingan negara-negara sahabat. (Sen)

Share it:

Baca Juga