Pemkab PPU Siapkan Skema Air Curah dari Bendung 2 dan ITCI

Ilustrasi penyediaan air bersih di Penajam Paser Utara. (Ist/AI)

Seantero.id, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan langkah penanganan krisis bahan baku air bersih dengan menjajaki kerja sama penyediaan air curah dari kawasan Bendung 2 dan ITCI.

Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan persoalan utama pelayanan air bersih di daerahnya saat ini terletak pada keterbatasan sumber air baku, terutama menjelang musim kemarau.

“Di Penajam ini yang paling utama memang kesulitan bahan baku air bersih. Apalagi sekarang mulai masuk musim kemarau,” kata Mudyat.

Ia menjelaskan, kondisi air baku di wilayah Lawe-Lawe mulai mengalami kekeruhan cukup pekat. Karena itu, pemerintah daerah melakukan pembendungan pada beberapa aliran menuju Sungai Lawe-Lawe agar debit air tetap terjaga.

“Air baku yang kita gunakan di Lawe-Lawe sudah mulai keruh pekat. Ada beberapa aliran ke Sungai Lawe-Lawe yang sudah kami bendung supaya airnya tidak langsung tumpah,” ujarnya.

Menurutnya, upaya pencarian sumber air bawah tanah di PPU juga tidak mudah. Sebagian besar pengeboran tidak menemukan mata air, kecuali pada kedalaman lebih dari 120 meter yang memerlukan izin khusus dari pemerintah pusat.

“Daerah kita ini memang susah menemukan sumber air. Kalau pengeboran air bawah tanah sebagian besar tidak ditemukan mata air, kecuali di kedalaman di atas 120 meter,” jelasnya.

Sebagai solusi, Pemkab PPU berencana memanfaatkan suplai air dari Bendung 2 dan kawasan ITCI melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Air tersebut nantinya akan diolah melalui Water Treatment Plant (WTP) sebelum disalurkan ke masyarakat melalui jaringan perpipaan.

Mudyat menyebut layanan awal direncanakan menyasar sejumlah wilayah seperti Gresik, Petung, Jenebora, Bungo, Maridan hingga Sotek.

“Yang di Bendung 2 dan ITCI itu akan kita coba gunakan untuk melayani sekitar tiga sampai lima kelurahan,” katanya.

Ia menambahkan, skema distribusi air curah dinilai lebih efektif dan murah dibanding kondisi saat ini. Pemerintah daerah nantinya membeli air curah dari penyedia untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat.

“Kalau perpipaan dan WTP-nya siap, itu jauh lebih mudah. Pemerintah daerah nanti membeli air curah,” ucapnya.

Mudyat memperkirakan harga air curah nantinya dapat ditekan agar tetap terjangkau masyarakat.

“Kemungkinan maksimal sekitar Rp4.000 per meter kubik. Itu jauh lebih murah dibanding harga air bersih yang sekarang,” pungkasnya. (Bey)

Share it:

Baca Juga