Seantero.id, JAKARTA – Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh lembaga keuangan global, JP Morgan Asset Management, posisi Indonesia dinilai sangat solid dalam menghadapi krisis energi yang tengah melanda dunia. Prestasi ini menunjukkan bahwa strategi pemerintah dalam menjaga ketersediaan sumber daya domestik membuahkan hasil yang signifikan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan respons positif terhadap pencapaian ini. Ia menilai bahwa pengakuan dunia ini merupakan bukti nyata efektivitas langkah pemerintah selama ini. Pasalnya, dalam laporan terbaru Eye on the Market yang diterbitkan JP Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026 itu, Indonesia disebut berada di peringkat kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global.
Menurut Airlangga, temuan tersebut menguatkan arah kebijakan ketahanan energi yang dijalankan pemerintah secara konsisten di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas energi global. “Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang Pemerintah,” kata dia dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Secara teknis, laporan tersebut mengukur kemampuan 52 negara dalam mengelola sumber energi mandiri. Indonesia berhasil mencatatkan nilai yang sangat tinggi karena mampu memaksimalkan potensi alamnya sendiri. Berdasarkan data, Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dengan skor 77 persen, mengungguli negara besar lainnya seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Kekuatan utama Indonesia terletak pada melimpahnya pasokan batu bara dan gas bumi yang mampu mencukupi kebutuhan nasional secara mandiri.
Selain itu, Indonesia juga dianggap aman karena tidak terlalu bergantung pada jalur distribusi energi yang berisiko tinggi. Hal ini membuat ekonomi nasional lebih stabil dibandingkan negara-negara maju yang sangat bergantung pada impor. Airlangga menyebut, di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 serta membantu melindungi daya beli masyarakat dan kelangsungan aktivitas dunia usaha.
Pemerintah berkomitmen untuk tidak lengah dan terus mempercepat transisi ke energi terbarukan serta mendorong penggunaan kendaraan listrik. Langkah ini diambil agar kemandirian energi Indonesia semakin kokoh di masa depan. (Sen)









