Seantero.id, SURABAYA – Dunia akademik dan kedokteran di Indonesia kembali mencatatkan sejarah baru. Nama Eighty Mardiyan Kurniawati mungkin belum terlalu familiar bagi publik luas. Namun di lingkungan Universitas Airlangga (Unair), sosok yang akrab disapa Prof Eighty ini mencatat sejarah penting sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Dekan FK Unair, salah satu fakultas kedokteran tertua di tanah air.
Menariknya, perjalanan karier sang profesor tidak dimulai dari koridor rumah sakit saja. Jauh sebelum memimpin fakultas, ia sempat mencicipi dunia jurnalistik sebagai wartawan di Surabaya Post hingga Jawa Pos pada tahun 2000–2002. Pengalaman menulis dan berkomunikasi dengan publik inilah yang kemudian membentuk karakternya menjadi sosok pemimpin yang adaptif dan komunikatif.
Karier akademiknya dimulai pada Januari 2005 saat ia masih menempuh pendidikan spesialis. “Saya dipanggil dan diminta ikut tes PNS. Salah satu alasannya karena IPK saya di atas tiga dan punya prestasi,” ucap Prof Eighty di Surabaya pada Selasa (21/4/2026). Sejak saat itu, ritme hidupnya menjadi sangat padat antara mengajar dan melayani kesehatan masyarakat. “Pagi sampai siang bersama mahasiswa, sore sampai malam bersama pasien,” tuturnya mengenang masa-masa awal kariernya sebagai dokter spesialis obgin.
Meskipun sibuk dengan riset mengenai uroginekologi rekonstruksi dan sel punca, ia tetap memprioritaskan keluarga. Ia bahkan sering memboyong ketiga buah hatinya ke tempat kerja agar mereka memahami esensi pengabdian. “Mereka saya ajak ke RS, supaya tahu bahwa dokter adalah profesi yang mulia,” ujarnya menambahkan.
Ketangguhannya teruji saat pandemi COVID-19, di mana ia justru produktif menciptakan inovasi manekin pembelajaran. Puncaknya, pada 2023 ia dikukuhkan sebagai guru besar termuda di bidangnya. Pengetahuannya sebagai mantan wartawan sangat membantu saat ia menjabat sebagai Ketua Humas FK Unair, hingga akhirnya resmi dilantik menjadi Dekan pada 1 September 2025.
Kini, di bawah kepemimpinannya, ia membawa visi BRIGHT untuk mencetak ‘dokter bintang tujuh’. Ia ingin lulusan FK Unair tidak hanya cerdas secara medis, tetapi juga mampu menjadi pemimpin dan peneliti yang memiliki moralitas kuat di tingkat global. Perjalanan dari seorang wartawan menjadi seorang profesor sekaligus pimpinan fakultas adalah bukti bahwa adaptasi dan kerja keras mampu menembus batas-batas profesi. (Sen)









