Sosok Sabar Bu Atun, Guru SMA Negeri 1 Purwakarta yang Viral Tetap Maafkan Muridnya

Guru SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah atau Bu Atun menjadi korban penghinaan sejumlah siswanya. (tribunnews.com)

Seantero.id, PURWAKARTA – Dunia pendidikan tanah air tengah diramaikan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan tindakan kurang terpuji dari sejumlah oknum pelajar. Peristiwa yang menimpa seorang pengajar di SMA Negeri 1 Purwakarta, Syamsiah, menjadi sorotan publik setelah beredarnya rekaman yang memperlihatkan perilaku tidak pantas dari siswa terhadapnya. Syamsiah, atau yang akrab disapa Bu Atun, merupakan pengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang telah mengabdi lebih dari dua dekade.

Meski mendapatkan perlakuan tidak sopan berupa gestur jari tengah di belakang punggungnya, Bu Atun menunjukkan ketegaran luar biasa. Selama 23 tahun berkarier sejak 2003, ini merupakan pengalaman pahit pertama yang dialaminya. Namun, ia memilih untuk merangkul dan memaafkan para pelakunya daripada menempuh jalur hukum.

“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” ungkap Syamsiah menceritakan kronologi kejadian di Purwakarta, Senin (20/4/2026). Ia menambahkan bahwa keimanannya menjadi obat penyembuh luka hati. “Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,” tuturnya dengan penuh keteguhan.

Pihak sekolah pun tidak tinggal diam dalam menyikapi masalah karakter ini. Kepala SMA Negeri 1 Purwakarta, Sidik Tamsil, menjelaskan bahwa ada sembilan siswa yang terlibat dan kini sedang menjalani pembinaan khusus agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Setelah kejadian, kami langsung memanggil orang tua pada Sabtu lalu. Atas arahan Disdik Jabar dan Gubernur, disepakati sanksi pembinaan selama tiga bulan,” kata Sidik Tamsil kepada wartawan di SMA Negeri 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026). Para siswa tersebut diberikan sanksi sosial berupa tanggung jawab membersihkan lingkungan sekolah, mulai dari ruang kelas hingga fasilitas toilet, namun tetap mendapatkan hak belajar di ruang khusus dengan pendampingan psikolog.

Sikap bijak Bu Atun diharapkan menjadi refleksi bagi dunia pendidikan mengenai pentingnya adab di atas ilmu. Sebagai pendidik, ia menegaskan bahwa tujuannya adalah membimbing, bukan menghukum. Dengan kesabaran yang dimiliki guru di SMA Negeri 1 Purwakarta ini, diharapkan para siswa dapat berubah menjadi pribadi yang lebih berakhlak di masa depan. (Sen)

Share it:

Baca Juga