Seantero.id, KUKAR – Kekosongan dokter di Puskesmas Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang telah berlangsung hampir satu tahun, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menegaskan sejumlah langkah tengah disiapkan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
“Kami masih berusaha mencari dokter yang bisa ditugaskan di sana,” ujar Aulia, Senin (20/4).
Sebagai solusi jangka pendek, Pemkab Kukar akan merevisi peraturan bupati terkait peningkatan insentif bagi dokter non-aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan ini diharapkan mampu menarik minat tenaga medis untuk bertugas di wilayah terpencil seperti Tabang.
Menurut Aulia, salah satu kendala utama adalah ketidakseimbangan antara beban kerja dengan kompensasi yang diterima. Selain itu, akses menuju wilayah Tabang yang cukup sulit juga menjadi faktor penghambat.
“Kalau dibandingkan dengan di kota memang terlihat besar, tetapi effort ke sana cukup tinggi. Sementara menurut mereka, pembiayaannya masih belum memadai,” jelasnya.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, pemerintah daerah menerapkan sistem telemedisin. Melalui skema ini, tenaga perawat di Puskesmas Tabang tetap melayani pasien dengan pendampingan jarak jauh oleh dokter dari fasilitas kesehatan terdekat.
“Pelayanan tetap berjalan. Perawat memeriksa pasien dan dimonitor oleh dokter melalui telemedisin,” tambahnya.
Di sisi lain, Aulia menekankan pentingnya solusi jangka panjang melalui pengembangan sumber daya manusia lokal. Ia menilai kebutuhan dokter di daerah terpencil akan sulit terpenuhi jika tidak berasal dari putra daerah.
“Jangan berharap masalah dokter di Tabang selesai kalau bukan anak Tabang yang jadi dokter,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, pemerintah daerah menginisiasi program beasiswa bagi pelajar asal Tabang untuk menempuh pendidikan di fakultas kedokteran. Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan pihak swasta guna mendukung pembiayaan pendidikan.
Aulia berharap kombinasi kebijakan insentif, inovasi layanan kesehatan, serta pengembangan SDM lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi kekurangan tenaga medis di wilayah terpencil.
“Kalau ada dokter yang mau bertugas di sana, segera. Kita siap memfasilitasi,” pungkasnya.









