Cetak Calon Pemimpin Dunia, Mendikdasmen Dorong Pembelajaran Kritis Lewat Simulasi Diplomasi

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (Dok. Kemendikdasmen)

Seantero.id, BEKASI – Dunia pendidikan Indonesia kini tengah diarahkan untuk lebih berani mengeksplorasi metode baru di luar teks buku. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, secara terang-terangan memberikan dukungan terhadap model pembelajaran kritis yang mampu mengasah mentalitas pelajar dalam berargumen dan bernegosiasi di level internasional.

Langkah ini dinilai krusial agar generasi muda tidak hanya jago secara teori, tetapi juga luwes dalam mempraktikkan keterampilan diplomasi. Salah satu wadah yang dianggap sangat efektif adalah forum Model United Nations (MUN), di mana para siswa berperan seolah-olah menjadi delegasi negara dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menilai forum Model United Nations (MUN) dapat mengasah kemampuan berpikir kritis para pelajar di bidang diplomasi. Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri Al-Muhajirien Model United Nations (AMUN) 2026 di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran berbasis pengalaman seperti MUN memungkinkan siswa mempraktikkan langsung keterampilannya. “Program seperti ini sejalan dengan upaya kita dalam membangun generasi Indonesia yang tangguh, yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, serta kesiapan untuk berkompetisi secara global,” ujar Abdul Mu’ti di lokasi acara, dilansir dari tribunnews.com pada Minggu (19/4/2026).

Ia menegaskan, penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045, di mana pendidikan harus mampu melahirkan calon pemimpin masa depan. Senada dengan hal itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, turut melihat kegiatan ini sebagai bentuk edukasi kontekstual yang sangat nyata.

“Ini bukan sekadar kegiatan, tetapi simulasi dunia nyata. Di sini para peserta belajar bagaimana menyampaikan gagasan, bernegosiasi, dan memahami cara dunia bekerja,” ungkap Tri Adhianto di Bekasi.

Ajang AMUN 2026 ini menghadirkan dua topik besar yang sangat relevan, yakni keamanan ruang digital bagi pelajar di dewan UNESCO serta validasi ilmiah pengobatan tradisional di dewan WHO. Dengan cara ini, siswa ditantang untuk merumuskan solusi atas masalah global yang kompleks. Melalui pembelajaran kritis semacam ini, Mendikdasmen berharap muncul bibit-bibit baru yang memiliki rasa percaya diri tinggi untuk berbicara di panggung dunia dan membawa nama harum Indonesia melalui jalur diplomasi. (Sen)

Share it:

Baca Juga