Seantero.id, JAKARTA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di tanah air mulai 18 April 2026, mendapat sorotan dari banyak pihak termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
Dalam komentarnya JK mengatakan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut menjadi langkah yang tak terhindarkan, mengingat kondisi keuangan negara saat ini yang terus mengalami defisit.
JK menyebut kenaikan BBM nonsubsidi sekarang ini cukup signifikan, hingga beberapa jenis mengalami kenaikan lebih dari 50 persen.
Penyesuaian harga tersebut telah diprediksinya sejak dua bulan lalu, berdasarkan hitungan terhadap kemampuan fiskal negara.
“Naik BBM hampir lebih 50 persen. Tidak bisa ditahan negara ini, keuangannya defisit akan banyak,” ungkap JK, di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, 18 April 2026.
Ia pun membantah terkait adanya tudingan yang menyebut bahwa dirinya menjadi pihak yang mendorong pemerintah untuk mencabut subsidi.
“Semua oh Pak JK karena pemerintah memaksa, tidak saya tidak paksa, usul. Semua warga negara, anda pun boleh mengusulkan apapun ke pemerintah,” lanjutnya.
JK menegaskan bahwa kapasitasnya sebagai warga negara yang memberikan usulan atau masukan sebagai upaya menyelamatkan anggaran negara.
Ia juga menyinggung tekanan ekonomi global yang menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga saat ini.
Dalam keterangannya JK menekankan terkait pentingnya efisiensi anggaran dalam rangka mengurangi ketergantungan pada utang negara yang saat ini terus mengalami kenaikan.
Selain meminta adanya evaluasi anggaran, mantan Wapres RI tersebut menyarankan agar pemerintah saat ini dapat melakukan pengurangan subsidi sebagai upaya mengurangi defisit.
“Kenapa? Karena kalau harga murah seperti sekarang orang cenderung untuk tidak berhemat. Jalam macet karena murah BBM. Di samping itu subsidi akan meningkat terus, nah kalau meningkat terus maka utang naik terus,” jelas Jusuf Kalla.(Dd)









