Seantero.id, JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus bergerak cepat dalam menjaga stabilitas energi di dalam negeri. Langkah terbaru diambil oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang secara resmi memperkuat sinergi dengan pemerintah Rusia. Kerja sama strategis ini difokuskan pada pengamanan pasokan BBM berupa minyak mentah (crude), penyediaan LPG, hingga pengembangan infrastruktur penyimpanan energi yang lebih mumpuni.
Langkah diplomasi energi ini menjadi krusial mengingat kondisi geopolitik dunia yang sedang tidak menentu, terutama dampak konflik di kawasan Timur Tengah. Bahlil bersama Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, berkomitmen untuk memastikan ketersediaan energi tetap stabil bagi masyarakat Indonesia. Kerja sama ini mencakup pengadaan minyak mentah, gas cair, serta pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) untuk memperkuat cadangan nasional.
Akademisi menilai keputusan ini sebagai strategi yang sangat rasional. Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari ITS Surabaya, Ridho Hantoro, menyebutkan bahwa diversifikasi sumber energi sangat penting. “Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” ujar Ridho saat dihubungi pada Sabtu (18/4/2026) di Surabaya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan fasilitas penyimpanan sebagai fondasi keamanan energi. “Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat,” imbuh Ridho. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tetap memperhatikan kesesuaian teknis jenis minyak dengan kilang domestik serta harga yang kompetitif.
Senada dengan hal tersebut, dosen kebijakan publik Unesa, Ahmad Nizar Hilmi, melihat kerja sama ini sebagai bagian dari dinamika politik ekonomi global. “Dalam perspektif kebijakan, kerja sama pasokan energi dengan Rusia perlu dibaca bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang membentuk pilihan kebijakan domestik,” ujar Nizar di Surabaya pada Sabtu (18/4/2026).
Menurut Nizar, langkah pemerintah tetap relevan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak terjadi lonjakan inflasi akibat kelangkaan energi. Melalui kerja sama ini, diharapkan Indonesia memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap gejolak pasar dunia, sembari tetap melakukan upaya penguatan produksi energi di dalam negeri secara paralel. (Sen)









