Atasi Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Dorong Inovasi Kemasan dari Rumput Laut dan Singkong

Menteri UMKM Maman Abdurrahman. (fraksigolkar.com)

Seantero.id, JAKARTA – Industri kemasan tanah air tengah menghadapi tantangan serius akibat menipisnya ketersediaan nafta, yang merupakan komponen utama pembuatan plastik. Kondisi ini memicu kenaikan harga yang cukup signifikan dan mulai berdampak pada beban operasional para pelaku usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pemerintah sedang menyiapkan strategi menghadapi lonjakan harga plastik imbas menipisnya bahan baku tersebut. Hal itu berdampak langsung pada bisnis pelaku UMKM, khususnya di bidang makanan dan minuman. Menghadapi situasi ini, langkah cepat diambil melalui Kementerian Perdagangan dengan menyiapkan solusi jangka pendek maupun jangka panjang.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan mendesak, pemerintah berupaya mencari sumber pasokan nafta dari wilayah yang lebih stabil. Namun, solusi permanen yang sedang digodok adalah melakukan transisi ke bahan yang berkelanjutan. Di sisi lain, pemerintah juga tengah membidik transformasi menuju penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik.

Potensi kekayaan alam Indonesia seperti rumput laut dan singkong kini menjadi sorotan utama untuk dikembangkan menjadi bioplastik. “Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” ujar Maman Abdurrahman dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Maman menilai bahwa momen ini adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk mulai lepas dari ketergantungan impor. Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena ketersediaan singkong dan tanaman laut yang melimpah. Ia menambahkan, rumput laut dan singkong yang melimpah di Indonesia sebenarnya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif plastik. Namun, selama ini keterbatasan pasar membuat biaya produksinya masih relatif tinggi.

Dengan adanya dorongan kebijakan baru, diharapkan permintaan pasar akan naik sehingga harga produksi bisa lebih ditekan. Saat ini, beberapa UMKM bahkan sudah berhasil mengekspor kemasan ramah lingkungan ini ke luar negeri. Pemerintah berkomitmen memperkuat dukungan agar skala produksi nasional bisa segera meningkat.

“Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan,” beber Maman. Langkah ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan UMKM dari kenaikan harga kemasan, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri kemasan hijau dunia. (Sen)

Share it:

Tags

Plastik UMKM

Baca Juga