Seantero.id, JAKARTA – Peta politik nasional mendadak hangat setelah munculnya pernyataan mengejutkan dari Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo. Dalam sebuah acara resmi, ia mengungkapkan adanya pergerakan pihak tertentu yang berniat mengganggu stabilitas kepemimpinan nasional. Isu panas mengenai upaya kudeta terhadap Presiden Prabowo Subianto ini pun langsung memantik reaksi dari berbagai kalangan, termasuk partai oposisi.
Menanggapi hal tersebut, politisi senior PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, menyarankan agar orang-orang di lingkaran dekat Kepala Negara tidak memberikan pernyataan yang justru memicu kegaduhan. Menurutnya, stabilitas merupakan kunci utama untuk menarik kepercayaan dunia internasional. Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira menyebut orang lingkaran Presiden RI Prabowo Subianto seharusnya bisa berbicara yang membuat iklim sosial tetap stabil agar para investor mau menanamkan modal di Indonesia.
“Lingkaran di sekitar Pak Prabowo seharusnya membantu menciptakan suasana kondusif untuk jalannya pemerintahan yang stabil,” kata Andreas melalui layanan pesan pada Kamis (9/4/2026) di Jakarta. Ia menilai, pernyataan yang saling bertentangan antar pejabat justru akan membingungkan publik. Di satu sisi ada klaim dukungan rakyat mencapai 70 persen, namun di sisi lain muncul isu penggulingan kekuasaan. “Ada yang cenderung paranoid, mempunyai kekhawatiran berlebihan bahwa ada ancaman kudeta,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan dasar logika dari isu tersebut mengingat kekuatan bersenjata di tanah air sangat solid. “Siapa, sih, yang mau kudeta? Kalau kudeta tentu orang atau kelompok orang bersenjata yang mau mengambilalih kekuasaan, di Indonesia ini siapa, sih, yang punya senjata? Tentu TNI,” ujar Andreas.
Sebelumnya, Hashim memang sempat melontarkan pernyataan yang cukup keras mengenai adanya upaya inkonstitusional di tengah jalannya program pemerintah. Menurut Hashim, ada pihak mau menggoyang Presiden Prabowo Subianto yang jabatannya belum sampai satu setengah tahun.
“Saya hitung satu tahun lima bulan sudah ada yang ingin menggulingkan dia, sudah ada yang mau kudeta dia, mau menggantikan dia secara inkonstitusional,” ujarnya saat membawakan sambutan pada Paskah Nasional 2026 di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (8/4/2026). Hingga kini, publik masih menunggu kepastian terkait detail ancaman yang dimaksud agar tidak sekadar menjadi bola panas di tengah masyarakat. (Sen)









