Seantero.id, JAKARTA – Dinamika politik tanah air mulai memanas meski gelaran pesta demokrasi masih cukup jauh. Perhatian publik kini tertuju pada langkah strategis yang akan diambil oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Setelah melewati kontestasi sebelumnya, banyak pengamat menilai bahwa titik balik karir politiknya akan sangat ditentukan pada momentum Pilpres 2029 mendatang.
Saat ini, posisi Anies berada di persimpangan jalan yang cukup dilematis. Di satu sisi, ia baru saja meluncurkan wadah politik baru bernama Gerakan Rakyat. Namun, di sisi lain, tantangan untuk membesarkan partai tersebut tidaklah ringan, mulai dari urusan biaya hingga proses verifikasi yang ketat. Di tengah situasi ini, muncul spekulasi menarik mengenai kemungkinan dirinya bergabung dengan kekuatan politik yang sudah mapan untuk menghadapi dominasi pemerintahan Prabowo Subianto di masa depan.
Analis komunikasi politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa), menyatakan bahwa nasib politik Anies Baswedan akan ditentukan di Pemilihan Presiden (Pilpres 2029). Menurutnya, jalan yang tersedia saat ini tidak ada yang mudah. “Anies ini pilihannya sekarang memang enggak enak, kalau idealis bisa jadi dia hilang dari percaturan nasional. Kalau dia pragmatis mungkin banyak pendukungnya gak suka,” kata Hensa kepada wartawan di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Hensa menilai jika Anies memilih jalur pragmatis demi menjaga eksistensi, ia bisa saja melirik posisi wakil presiden terlebih dahulu. Salah satu skenario mengejutkan yang muncul adalah potensi duet antara putra bungsu Presiden ke-7 Jokowi, Kaesang Pangarep, dengan Anies. Kombinasi ini dinilai unik karena menggabungkan basis massa pendukung loyal dengan infrastruktur partai seperti PSI.
“Kalau dia mau mendapatkan kekuatan Jokowi, ya Kaesang. Kaesang-Anies Baswedan misalnya, mungkin bisa juga kalau dia mau,” ujar Hensa. Namun, ia juga memberikan catatan kritis mengenai rekam jejak politik Anies belakangan ini yang dianggap kurang konsisten oleh sebagian kalangan. “Ingat waktu dia mau maju Gubernur pas dia gagal capres… itu sebuah cerita yang enggak enak menurut saya, ini orang kayak cari kerjaan aja,” tambahnya.
Meskipun memiliki tantangan besar dalam hal organisasi dan kendaraan politik, Hensa mengakui bahwa Anies masih memiliki basis massa yang nyata. Kini, pertaruhannya adalah apakah ia mampu mengonsolidasi kekuatan tersebut untuk kembali bersaing dengan tokoh kuat seperti Prabowo atau justru memilih berkompromi demi karier jangka panjang. (Sen)









