Bamsoet Tegaskan Pancasila Harus Jadi Kompas Strategis Indonesia Hadapi Geopolitik Global

Anggota DPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet (jpnn.com)

Seantero.id, JAKARTA – Dinamika dunia yang semakin memanas menuntut Indonesia memiliki pegangan kuat dalam menentukan arah kebijakan. Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo atau yang akrab disapa Bamsoet, menekankan pentingnya ideologi negara sebagai pemandu di tengah ketidakpastian. Menurutnya, Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan instrumen vital untuk menjaga stabilitas nasional dari gempuran pengaruh luar.

Situasi ekonomi dan politik dunia saat ini memang sedang tidak menentu. Adanya perang ekonomi hingga perebutan sumber daya alam memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat di dalam negeri. Hal ini terlihat dari fluktuasi harga energi serta tantangan ekonomi yang harus dihadapi pemerintah. Oleh karena itu, posisi Indonesia di kancah internasional perlu dipertegas agar tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan tatanan global.

Bamsoet menyampaikan pandangannya saat memberikan kuliah daring untuk Program Pascasarjana Universitas Pertahanan (Unhan) pada Rabu (1/4/2026) di Jakarta. “Anggota DPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet menegaskan dinamika geopolitik global yang semakin memanas saat ini menjadi ujian nyata bagi relevansi Pancasila sebagai dasar ideologi sekaligus arah kebijakan luar negeri Indonesia,” ungkapnya dalam sesi tersebut.

Ketua ke-15 MPR ini juga menyoroti kerentanan Indonesia terhadap gejolak di Timur Tengah, mengingat negara kita masih mengimpor sekitar 25 persen kebutuhan minyak dan 30 persen LPG dari wilayah tersebut. Jika tidak diantisipasi, lonjakan harga minyak dunia bisa membebani anggaran negara. “Pancasila harus ditempatkan sebagai kompas strategis bangsa dalam menghadapi tekanan geopolitik global,” tegas Waketum Partai Golkar tersebut.

Lebih lanjut, ia mendorong agar prinsip diplomasi bebas aktif dijalankan secara lebih berani dan nyata. Indonesia diharapkan mampu menjadi subjek yang menentukan arah, bukan sekadar objek kepentingan negara lain. “Dalam situasi seperti ini, prinsip bebas aktif harus ditafsirkan ulang secara lebih berani. Indonesia tidak boleh terjebak dalam netralitas pasif, tetapi harus aktif membangun posisi strategis yang berpihak pada kepentingan nasional,” tambah Bamsoet.

Sebagai bagian dari G20, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penyeimbang konflik dunia. Namun, hal itu hanya bisa terwujud jika seluruh kebijakan ekonomi dan politik berlandaskan pada kemandirian dan keadilan sosial sesuai napas ideologi bangsa. “Pertanyaannya sekarang sederhana, apakah kita siap menjadikan Pancasila sebagai strategi negara, atau hanya akan terus menjadikannya sebagai slogan,” pungkasnya menutup diskusi pada hari Rabu tersebut. (Sen)

Share it:

Baca Juga