Dilema Lebaran Ketupat di Pati: Harga Janur Mahal, Lapak Pedagang Sepi Pembeli

Pedagang janur musiman mulai bermunculan di Pasar Juwana Baru Kabupaten Pati (KOMPAS.com)

Seantero.id, PATI – Tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut hari raya ketupat atau “Kupatan” biasanya identik dengan keriuhan pasar. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Kabupaten Pati menjelang perayaan tahun ini. Meski momen lebaran ketupat sudah di depan mata, para pedagang musiman justru mengeluhkan kondisi pasar yang tidak bergairah akibat harga bahan baku yang melonjak.

Kenaikan harga daun kelapa muda atau janur menjadi pemicu utama lesunya transaksi. Menjelang tradisi Kupatan, deretan pedagang janur musiman mulai bermunculan di Pasar Juwana Baru, Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Sejak pagi, mereka berjajar di sepanjang jalan pertigaan pasar, menawarkan janur yang menjadi bahan utama pembuatan ketupat. Ada yang menjual dalam bentuk lembaran, ada pula yang sudah dianyam siap pakai. Namun, di tengah ramainya pengunjung pasar, suasana jual beli tahun ini terasa berbeda.

Salah satu pedagang, Dasri, mengaku tetap berjualan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, kondisi pasar tidak seramai biasanya dari sisi pembeli. “Setiap Lebaran saya selalu jualan di sini. Tapi tahun ini memang agak sepi,” ujarnya pada Kamis (26/3/2026) di Pati.

Fenomena janur mahal ini memang cukup terasa bagi kantong masyarakat. Ia menyebut harga janur kini mencapai Rp 30.000 per ikat berisi 50 helai, naik dari sekitar Rp 20.000 pada tahun lalu. Kenaikan harga itu turut memengaruhi penjualan. “Kenaikannya sampai Rp 10.000 per ikat. Mau tidak mau harga jual ikut naik, tapi untungnya jadi tipis,” tambahnya. Sementara itu, anyaman ketupat siap pakai dijual Rp 25.000 per 10 buah.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lain, Wulandari. Ia menilai ramainya pengunjung tidak sebanding dengan jumlah transaksi yang terjadi. “Pengunjung memang banyak, tapi yang beli janur sedikit. Ini saja baru laku lima ikat. Tahun lalu lebih ramai,” ungkapnya pada hari yang sama.

Kondisi pembeli sepi ini disinyalir terjadi karena banyak warga yang sudah kembali ke perantauan sebelum puncak perayaan dimulai. Menurut para pedagang, menurunnya jumlah pembeli dipengaruhi perubahan pola masyarakat. Banyak warga yang sudah kembali ke perantauan setelah Lebaran, sehingga pembeli lokal berkurang.

Tradisi membuat ketupat biasanya mencapai puncaknya pada H+7 Lebaran atau yang dikenal dengan lebaran ketupat. Meski demikian, kondisi tahun ini menunjukkan adanya pergeseran, baik dari sisi permintaan maupun daya beli masyarakat. Para pedagang berharap penjualan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan, seiring mendekatnya momentum sakral tersebut. Di tengah ketidakpastian harga, mereka tetap bertahan menunggu secercah harapan dari tradisi tahunan ini. (Sen)

Share it:

Baca Juga