H-2 Lebaran, Penjual Ketupat Ramai Bermunculan di Pasar Induk Penajam

Penjual ketupat mulai menjamur di Pasar Induk Penajam menjelang lebaran. (Berbi Ollan/Seantero)

Seantero.id, PENAJAM – Menjelang Hari Raya Idulfitri atau H-2 Lebaran, aktivitas jual beli di Pasar Induk Penajam, Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, tampak semakin ramai.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah pedagang ketupat yang mulai menjamur dan menjajakan dagangannya di area pasar.

Lapak-lapak dadakan tersebut terlihat berjejer menjual anyaman daun kelapa yang siap digunakan untuk membuat ketupat, makanan khas yang identik dengan perayaan Lebaran.

Momen ini memang menjadi peluang tahunan bagi masyarakat untuk meraih tambahan penghasilan menjelang Lebaran.

Salah satu pedagang, Nisra (40), mengaku baru empat hari berjualan ketupat di pasar tersebut. Meski tergolong pendatang baru, ia mampu meraup penjualan yang cukup tinggi.

“Saya baru mulai hari Senin kemarin, sudah sekitar empat hari, tetapi Alhamdulillah, ada laku, karena di pasar ini kan cukup ramai,” ujarnya, Kamis (19/3).

Berbeda dengan pedagang lain yang sudah bertahun-tahun berjualan, Nisra menyatakan jika ini adalah pengalaman pertamanya. Namun, hasil penjualannya cukup menggembirakan.

“Sudah ada yang habis, hari ini aja sekitar 300 biji,” katanya.

Ketupat yang dijualnya dibanderol dengan harga bervariasi, mulai dari Rp1.500 hingga Rp2.000 per biji, tergantung ukuran.

Nisra juga mengaku, jika tidak semua jualannya hasil dari daun kelapa miliknya sendiri. Ia lebih memilih membeli daun kelapa sebab tidak memiliki pohon sendiri.

Harga daun kelapa saat ini berkisar Rp15 ribu per batang, yang kemudian diolah menjadi anyaman ketupat.

Sementara itu, pedagang lainnya, Mulyana (45), mengungkapkan bahwa dirinya sudah sekitar tiga tahun berjualan ketupat setiap menjelang Lebaran.

“Sudah ada sekitar tiga tahun jualan kalau mau Lebaran,” katanya.

Namun, menurut Mulyana, penjualan ketupat tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku kerap menghadapi risiko kerugian jika dagangannya tidak laku.

“Kadang laku, kadang enggak. Pernah juga sampai dibuang ke sampah,” ungkapnya.

Berbeda dengan Nisra, Mulyana juga membeli bahan baku daun kelapa dari pemasok, dengan harga yang kini mencapai sekitar Rp20 ribu per ikat.

Meski penuh tantangan, para pedagang tetap berharap momentum H-1 Lebaran ini mampu mendongkrak perekonomian mereka. (Bey)

Share it:

Baca Juga