Seantero.id, GUNUNGKIDUL – Kisah perjuangan seorang anak laki-laki bernama Ahmad Tri Efendi (10) sempat mengundang simpati publik. Bocah yang akrab disapa Fendi ini terpaksa berhenti dari bangku sekolah sejak duduk di kelas 1 MI di Girisekar. Alasannya sangat menyentuh, ia memilih untuk fokus merawat kedua orang tuanya, terutama sang ibu yang sedang terbaring sakit.
Diketahui, kondisi keluarga Fendi memang sedang dalam ujian berat. Ibunya, Siaminah, telah menderita sakit selama empat tahun terakhir. Sementara sang ayah, Slamet, juga mengalami gangguan saraf sejak dua tahun lalu yang membuatnya tidak bisa beraktivitas secara normal. Situasi ini membuat Fendi merasa harus hadir di samping kedua orang tuanya daripada melanjutkan pendidikannya.
Namun, harapan baru muncul bagi masa depan Fendi. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, turun tangan langsung untuk memastikan Fendi bisa kembali ke sekolah tanpa perlu memikirkan biaya. Pihak Kemenag menjamin akses pendidikan gratis bagi anak tersebut agar ia tidak tertinggal lebih jauh.
Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul, Mukotip, memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. “Saya minta untuk Fendi itu masuk dan alhamdulillah memastikan akan masuk. Karena apa? Saya yakin karena kami menginginkan anak kami akan saya edukasi dan saya bebaskan dari segala tarikan,” ujar Mukotip saat ditemui di Kantor Kemenag Gunungkidul, Selasa (17/3/2026).
Langkah ini diambil agar tidak ada lagi anak di Gunungkidul yang kehilangan hak dasarnya untuk belajar karena kendala ekonomi atau situasi keluarga yang mendesak. “Sehingga anak-anak bisa mengenyam secara merata dan tinggi sehingga SDM di Gunungkidul semakin baik,” tambahnya.
Mukotip juga memahami alasan emosional di balik keputusan bocah kelas 1 MI tersebut untuk berhenti sekolah sementara waktu. “Mungkin sensitivitas anak kepada orangtuanya dan orangtuanya tidak bisa apa-apa itu yang menjadikan mereka tidak sekolah,” ungkap Mukotip dengan nada penuh empati.
Kini, dengan dukungan penuh dari pemerintah setempat, Fendi diharapkan dapat menyeimbangkan pengabdiannya kepada orang tua dengan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Kehadiran negara dalam kasus ini menjadi bukti nyata komitmen untuk terus rawat orang tua sekaligus mencerdaskan generasi bangsa melalui fasilitas pendidikan yang inklusif dan merata. (Sen)









